Pernyataan ini merupakan respons terhadap meningkatnya kampanye serangan hibrida Rusia di seluruh Eropa, termasuk dugaan sabotase, serangan siber, pembakaran, intrusi drone, serta ancaman terhadap infrastruktur penting dan perusahaan pertahanan. Pejabat Eropa menilai aktivitas tersebut sebagai upaya Moskow untuk menguji batas kemampuan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), mengganggu dukungan bagi Ukraina, dan memanfaatkan ketidakpastian mengenai cara aliansi tersebut merespons tanpa memicu konflik yang lebih luas.
Meski menegaskan bahwa AS akan tetap menjadi “sekutu yang tak tergantikan”, draf pernyataan tersebut menyebutkan bahwa “tanggung jawab yang lebih besar ini harus dimulai dengan pemberdayaan negara-negara sekutu Eropa di dalam NATO.”
Para pemimpin Eropa diperkirakan akan menyatakan bahwa mereka akan mengambil peran kepemimpinan politik dan militer yang lebih besar untuk memodernisasi angkatan bersenjata dan kapabilitas mereka. Langkah ini bertujuan memperkuat pertahanan kolektif NATO agar dapat “beradaptasi dengan tantangan saat ini dan masa depan”, sekaligus meningkatkan kesiapan pertahanan Eropa.
Menurut draf tersebut, sumber daya regulasi dan keuangan Uni Eropa dapat membantu mendukung ambisi pertahanan negara-negara anggotanya. Namun, upaya pertahanan blok tersebut harus memperkuat NATO, bukan menduplikasi tugasnya, serta tetap terbuka bagi negara-negara yang bukan anggota aliansi militer itu.
Pekan lalu, Kanselir Jerman Friedrich Merz memperingatkan bahwa ancaman Rusia terhadap Eropa melampaui perang di Ukraina. Menurutnya, Moskow semakin berupaya menggoyahkan demokrasi Eropa melalui tekanan, campur tangan, dan serangan hibrida.
Dalam wawancara dengan Bloomberg Television pada 19 Oktober, Merz mengatakan Eropa harus menanggapi ancaman tersebut dengan lebih serius, memperkuat pertahanannya, dan mengurangi ketergantungan pada AS sembari terus mendukung Ukraina.
Langkah para pemimpin Eropa ini diambil setelah ketegangan antara AS dan Ukraina meningkat menyusul kesepakatan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam kesepakatan tersebut, AS setuju untuk tidak menjatuhkan sanksi tambahan sebagai imbalan atas pasokan diesel dari Moskow ke pasar global, dengan tujuan menekan kenaikan harga energi.
Kesepakatan itu menuai kecaman keras dari sejumlah politikus AS yang bersekutu dengan Trump, serta dari Ukraina dan para pemimpin Eropa.
“Kami akan mempertahankan komitmen teguh untuk mendukung Ukraina dalam melawan agresi Rusia,” demikian bunyi draf pernyataan tersebut. Para pemimpin Eropa juga menegaskan upaya mereka untuk memerangi armada bayangan Rusia serta menanggapi pelanggaran berkelanjutan terhadap wilayah udara Eropa.
“Kemampuan Ukraina untuk mempertahankan diri, baik saat ini maupun di masa depan, sangat penting bagi keamanan kolektif kawasan Euro-Atlantik.”
(bbn)





























