Logo Bloomberg Technoz

Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA) menyatakan pengurangan pasokan tersebut mencapai 31 juta kaki kubik standar per hari. Volume itu kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian Singapura.

Meski dampaknya terhadap kebutuhan harian relatif terbatas, persoalan pasokan gas menjadi perhatian Singapura karena sekitar 95% listrik negara tersebut dihasilkan menggunakan gas alam. Singapura juga mengimpor sebagian besar gasnya melalui jaringan pipa dari Indonesia.

Wong menyebut, negara nya telah menyiapkan langkah antisipasi terhadap risiko gangguan pasokan, termasuk berinvestasi pada terminal gas alam cair (liquefied natural gas/LNG). Infrastruktur tersebut memungkinkan Singapura mendatangkan gas dari berbagai negara sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan melalui pipa.

Di sisi lain, Wong menilai Singapura perlu mengembangkan sumber energi alternatif yang lebih bersih dan mampu memasok listrik secara andal sepanjang waktu. Salah satu opsi yang tengah dikaji pemerintah Singapura adalah energi nuklir.

“Dapat dimengerti, ada kekhawatiran tentang keamanan tenaga nuklir di negara kecil dan padat penduduk seperti Singapura. Kami menangani masalah dengan sangat serius. Keselamatan harus diutamakan,” kata Wong.

"Tapi kita seharusnya tidak mengesampingkan sebuah opsi hanya karena itu sulit atau kontroversial. Kita harus menilai risiko dan pertukaran dengan hati-hati, melibatkan warga Singapura, dan akhirnya membuat keputusan yang tepat untuk mengamankan masa depan energi kita.”

Pemerintah Singapura dijadwalkan memulai penilaian bersama Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) pada 2027 untuk mengukur kesiapan negara tersebut dalam mengambil keputusan terkait kemungkinan pengembangan program energi nuklir.

Wong mengatakan pemerintah akan mempertimbangkan secara cermat risiko dan manfaat energi nuklir, termasuk aspek keselamatan, sebelum menentukan langkah selanjutnya.

(dhf)

No more pages