Pembicaraan mengenai kemungkinan kesepakatan bertahap tersebut sebelumnya dilaporkan Reuters pada Kamis (24/9).
Negosiasi antara Washington dan Teheran yang berlangsung secara tidak menentu telah berulang kali gagal sejak perang dimulai, terutama akibat perbedaan pendapat mengenai Selat Hormuz dan kapan Iran akan mendapatkan akses terhadap dana miliaran dolar yang dibekukan oleh AS.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang berada di New York untuk menghadiri pertemuan puncak PBB, menggunakan pidatonya untuk menegaskan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz selama sanksi dan blokade laut AS masih berlaku.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mewakili Teheran dalam pembicaraan tersebut dan menyampaikan “posisi tegas” Teheran mengenai pembukaan kembali Hormuz, menurut media pemerintah Iran. Persyaratan tersebut mencakup pencabutan segera blokade laut oleh AS, pencairan aset Iran, dan pengakhiran perang “di semua lini”, menurut laporan media Iran. Pernyataan terakhir tampaknya merujuk pada kampanye Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Trump mengatakan kepada wartawan pada Selasa bahwa pejabat AS dan Iran telah berbicara di New York di tengah rangkaian pertemuan PBB. Pernyataannya mendorong kenaikan saham dan menekan harga minyak.
Trump berulang kali mengatakan AS dan Iran sudah mendekati kesepakatan, tetapi belum membuahkan hasil. Ia juga beberapa kali mengancam Teheran dengan eskalasi militer, termasuk ancaman untuk “melenyapkan” negara tersebut pada awal pekan ini, tanpa merealisasikannya.
Utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff mengatakan di media sosial pada awal pekan ini bahwa kedua pihak telah melakukan “pembicaraan panjang dengan delegasi Iran melalui para mediator, yang bergerak bolak-balik di antara kedua belah pihak sepanjang hari.”
“Mereka berhasil menyelesaikan satu putaran pembicaraan yang kami harap akan terbukti konstruktif dan menjanjikan,” tulisnya di X. “Para mediator akan melanjutkan pekerjaan mereka.”
(bbn)



























