Logo Bloomberg Technoz

“Kenaikan sekitar 18.500 atau 52,5% tersebut memberikan penyangga terhadap penurunan kedatangan dalam jangka pendek dan memberi ruang bagi pabrik untuk menyesuaikan pembelian,” kata Chew dalam risetnya, Kamis (24/9/2026).

Kawasan industri penghiliran nikel Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah./Bloomberg-Dimas Ardian

“Kepemilikan, kadar, dan ketersediaan material untuk dijual akan memengaruhi seberapa cepat persediaan tersebut dapat memenuhi permintaan,” tegas Chew.

Produksi China

Chew memprediksi produksi baja tahan karat seri 300 China pada Oktober 2026 turun lebih dari 100.000 ton secara bulanan, gegara permintaan dari sektor hilir yang lemah dan tekanan terhadap margin pabrik.

Dia mengungkapkan kandungan rata-rata nikel dalam baja nirkarat sebesar 8%, penurunan produksi sebesar 100.000 ton akan mengurangi kebutuhan sekitar 8.000 ton nikel terkandung.

Jika NPI memasok 60%—80% kebutuhan tersebut, kata Chew, penurunan permintaan NPI diperkirakan setara dengan sekitar 4.800—6.400 ton nikel.

Chew mengungkapkan besaran tersebut relatif sebanding dengan potensi penurunan pasokan nikel dari IMIP sebanyak 5.500—7.700 ton dalam skenario pengurangan produksi selama setengah bulan.

“Penurunan produksi China berpotensi menyerap sebagian besar kontraksi pasokan awal. Jadwal produksi, pembelian, persediaan pabrik, dan pengaturan pengiriman akan menentukan kapan penyesuaian tersebut mencapai pasar fisik,” tegas Chew.

Efek ke Harga

Chew juga mencatat NPi sempat mengalami tekanan harga, sebelum gangguan produksi di IMIP terjadi. 

Rata-rata harga NPI Indonesia berdasarkan basis freight on board (FOB) turun dari US$144,50 per 10 kg Ni terkandung pada akhir Agustus 2026 menjadi US$135 per 10 kg Ni terkandung pada 22 September 2026.

Untuk itu, dia menilai penurunan produksi memperkuat posisi penjual NPI untuk mempertahankan penawaran harga, tetapi kenaikan harga yang berkelanjutan membutuhkan dukungan dari sisi permintaan.

“Sementara itu, permintaan baja tahan karat yang lemah membuat kemampuan pabrik untuk menyerap biaya yang lebih tinggi menjadi terbatas,” tegas dia.

Sebelumnya, PT IMIP mengonfirmasi sejumlah smelter di kawasan mengalami penurunan produksi, termasuk pabrik pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) yang memproduksi NPI.

Kendati begitu, IMIP mengklaim masih menghitung penurunan produksi dari setiap perusahaan di kawasan dan belum dapat mengonfirmasi produksi NPI dari kawasan IMIP turun sekitar 100.000 ton.

Sebagai perbandingan, kapasitas produksi terpasang smelter nikel di IMIP mencapai sekitar 4,2 juta ton per tahun atau sekitar 350.000 ton per bulan, berdasarkan estimasi Wood Mackenzie.

Saat dimintai konfirmasi, Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menerangkan penurunan produksi terjadi gegara fenomena El Niño menyebabkan penurunan debit air sungai di sekitar sentra nikel IMIP.

Dia mengungkapkan PT IMIP selaku pengelola kawasan bersama sejumlah tenant tengah melakukan penyesuaian target produksi dan mengupayakan sejumlah alternatif sumber pasokan air cadangan guna meminimalkan dampak.

“Kondisi inilah yang memengaruhi beberapa smelter di Kawasan IMIP mengalami penurunan termasuk pada produksi NPI. Namun, mengenai jumlah penurunannya kami belum mendapatkan angka pasti dari para tenant yang beroperasi di kawasan PT IMIP,” kata Deddy kepada Bloomberg Technoz, Selasa (22/9/2026).

Dia menjelaskan sumber daya air menjadi salah satu penopang operasional smelter RKEF dan high pressure acid leach (HPAL), pabrik produksi kokas, serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menyuplai energi untuk smelter.

Dedy menambahkan, pada proses produksi NPI, air digunakan untuk pendinginan komponen tungku listrik, pencetakan slag, serta sistem pendukung PLTU.

“Meski demikian, dampak tersebut tidak sampai menyebabkan operasional smelter di Kawasan IMIP terhenti maupun disertai pengurangan tenaga kerja hingga saat ini,” kata Dedy.

Dalam kesempatan sebelumnya, Dedy mengatakan kepada Bloomberg Technoz bahwa smelter di kawasan PT IMIP tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.

“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy, Rabu (2/9/2026).

Adapun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor NPI disebut-sebut masuk ke dalam kode HS 72026000 (ferronickel) yang sepanjang 2025 mencapai 11,56 juta ton. 

Ekspor yang tercatat dalam kode HS 72015000 (alloy pig iron; spiegeleisen), sepanjang 2025 mencapai 191,74 ribu ton.

Pada tahun lalu, ekspor NPI yang tercatat dalam kode HS 72026000 dari pelabuhan Morowali mencapai 1,22 juta ton, dengan negara tujuan ekspor terbesar China.

Sementara ekspor dari pelabuhan Morowali yang tercatat dalam kode HS 72015000 mencapai 13.864 ton dengan tujuan ekspor terbesar China.

Nikel diperdagangkan di level US$16.481/ton di London Metal Exchange (LME) hari ini, turun tipis 0,91% dari penutupan hari sebelumnya.

(azr/wdh)

No more pages