“Kami memperkirakan koreksi sebesar 8% hingga 10% pada S&P dengan potensi gelombang kedua pada Desember,” tulisnya dalam catatan kepada klien pada Senin.
Kenaikan suku bunga akan “menekan margin laba perusahaan yang tidak dapat meneruskan kenaikan biaya” serta menimbulkan guncangan volatilitas di pasar yang belum siap menghadapinya, katanya.
Curnutt mengatakan situasi ini mirip dengan yang dialami investor pada 2018, ketika S&P 500 mencapai puncaknya pada bulan September dan kemudian anjlok 10% sepanjang bulan Oktober dan November. Pada tahun itu, Curnutt memperingatkan, “Rally Santa Claus tidak terjadi” dan pasar mengalami penurunan lanjutan pada bulan Desember, yang pada akhirnya turun hampir 20% dari puncaknya.
Mengingat latar belakang tersebut, “sikap defensif adalah pendekatan yang tepat,” katanya.
Sama seperti pada tahun 2018, ia memperkirakan pasar akan mengalami penurunan lebih lanjut pada bulan Desember sebagai respons terhadap serangkaian kenaikan suku bunga oleh The Fed “di tengah perekonomian berbentuk K dengan tingkat pergantian yang rendah.”
(bbn)




























