Hadapi Erupsi GAK, Pelita Air Jaga Layanan Responsif

Bloomberg Technoz, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) turut berdampak pada perjalanan penerbangan di sejumlah bandara di sekitar GAK salah satunya Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, termasuk perubahan jadwal penerbangan termasuk Pelita Air. Namun, penyesuaian tersebut dinilai penumpang sebagai langkah yang mengutamakan keselamatan dalam kondisi force majeure.
Salah satu penumpang Pelita Air, Indah (28), mengaku sempat mengalami perubahan jadwal penerbangan dari 7 September menjadi 8 September 2026 akibat kondisi tersebut. Meski mengubah rencana perjalanan, dia menilai keputusan maskapai tetap menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas.
“Penerbangan yang semula dijadwalkan pada 7 September harus di-reschedule menjadi 8 September karena kondisi force majeure akibat erupsi gunung. Meski perubahan jadwal tentu sedikit mengubah rencana perjalanan, keputusan tersebut menunjukkan bahwa keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama,” ujar Indah saat ditemui di Bandara Internasional Lombok, Selasa (8/9/2026).
Menurut Indah, perubahan jadwal tidak mengurangi pengalamannya saat kembali melakukan perjalanan pada 8 September. Penerbangan berlangsung sesuai jadwal dengan dukungan pelayanan awak kabin yang dinilai profesional.
“Pada penerbangan 8 September, perjalanan berjalan dengan sangat baik. Pesawat berangkat tepat waktu tanpa delay, didukung pelayanan cabin crew yang ramah dan profesional,” katanya.
Indah mengatakan kenyamanan selama penerbangan juga ditunjang penyampaian instruksi keselamatan yang jelas. Kondisi tersebut membuat perjalanan tetap terasa aman setelah sebelumnya mengalami perubahan jadwal akibat faktor eksternal.
“Selama penerbangan, suasana terasa nyaman dan instruksi keselamatan disampaikan dengan jelas, sehingga memberikan rasa aman sepanjang perjalanan,” ujar Indah.
Ground Staff Maskapai Responsif
Pengalaman serupa disampaikan penumpang lainnya, Meza (37). Dia juga mengalami perubahan jadwal penerbangan akibat kondisi force majeure erupsi Gunung Anak Krakatau.
Menurut Meza, pelayanan Pelita Air tidak hanya dirasakan selama penerbangan, tetapi juga sejak proses penyesuaian jadwal. Ground Staff Pelita Air dinilai cukup responsif dalam memberikan informasi kepada penumpang.
“Ground Staff dari Pelita Air cukup responsif ketika kami menanyakan berbagai hal terkait reschedule dan perubahan jadwal penerbangan,” ujar Meza.
Menurut dia, respons tersebut membantu penumpang mendapatkan kejelasan di tengah perubahan rencana perjalanan yang terjadi akibat kondisi di luar kendali maskapai.
Bagi Meza, komunikasi yang cepat dan responsif menjadi bagian penting dalam memberikan rasa nyaman kepada penumpang ketika penerbangan harus mengalami penyesuaian.
Pengalaman Indah dan Meza menunjukkan bahwa dalam situasi force majeure, pelayanan maskapai tidak hanya dinilai dari operasional penerbangan, tetapi juga dari bagaimana maskapai berkomunikasi dan membantu penumpang menghadapi perubahan jadwal.
Setelah penerbangan dapat kembali dilakukan, Pelita Air dinilai mampu menjaga aspek ketepatan waktu, kenyamanan, keselamatan, serta respons pelayanan kepada penumpang.






























