Logo Bloomberg Technoz

15 Tahun Jadi Mantri BRI, Dewi Dampingi 380 Debitur di Lampung


(Dok. BRI)
(Dok. BRI)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Dewi Natalia telah menghabiskan hampir 15 tahun perjalanan kariernya bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Dari posisi Customer Service hingga menjadi Mantri, perjalanan tersebut membawanya semakin dekat dengan pelaku usaha mikro di berbagai wilayah Lampung.

Saat ini, Dewi bertugas sebagai Mantri BRI Unit Natar, Kantor Cabang Teluk Betung, Kantor Wilayah Bandar Lampung. Ia mendampingi sekitar 380 debitur mikro aktif yang menjadi bagian dari aktivitas ekonominya sehari-hari.

Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyaluran pembiayaan. Bagi Dewi, menjadi Mantri juga berarti hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan pelaku usaha, serta membantu mereka mendapatkan akses layanan keuangan formal.

Pengalaman Dewi menjadi gambaran bagaimana tenaga pemasar mikro BRI berhadapan langsung dengan tantangan inklusi keuangan. Salah satu persoalan yang pernah ditemuinya adalah ketergantungan pedagang pasar terhadap rentenir dengan bunga tinggi.

Perjalanan Dewi di BRI dimulai pada Februari 2011 ketika ia bergabung sebagai Customer Service. Setahun kemudian, ia memutuskan mendaftar sebagai Mantri karena ingin memiliki ruang lebih besar untuk berkontribusi terhadap masyarakat.

“Saya bisa bilang bahwa perjalanan yang saya tempuh tidak mudah ya, termasuk harus mengikuti seleksi ketat di Palembang hingga dua kali percobaan. Akan tetapi, akhirnya saya berhasil membuktikan komitmen saya,” kenang Dewi.

Setelah berhasil melewati proses seleksi, Dewi memulai tugas sebagai Mantri di BRI Unit Sendang Agung, Lampung Tengah. Saat itu, kantor tersebut masih tergolong baru sehingga ia harus membangun basis nasabah dari awal.

Dewi menjalankan pendekatan dari pintu ke pintu untuk mengenalkan layanan perbankan kepada masyarakat. Dari proses tersebut, ia menemukan banyak pedagang pasar tradisional yang belum terbiasa menggunakan layanan keuangan formal.

Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang masih mengandalkan rentenir untuk memperoleh modal usaha. Bagi Dewi, persoalan tersebut bukan sekadar masalah pembiayaan, tetapi juga menyangkut kemampuan pelaku usaha mempertahankan pendapatan dan mengembangkan bisnis.

Ia kemudian melakukan edukasi secara langsung kepada para pedagang. Perlahan, Dewi memperkenalkan pembiayaan mikro BRI sebagai alternatif permodalan yang lebih aman, transparan, dan terjangkau.

“Saya masuk mengedukasi pedagang-pedagang pasar. Kita kasih pinjaman sehingga mereka terlepas dari rentenir itu. Bagi saya pribadi, ada rasa bangga yang luar biasa ketika melihat mereka yang awalnya kesulitan, kini bisa mandiri berkat akses perbankan yang layak,” sebutnya.

Mantri BRI dan Perjuangan Melawan Rentenir

Upaya Dewi memperluas akses pembiayaan formal ternyata tidak selalu berjalan mulus. Perubahan pola pembiayaan yang dilakukan para pedagang turut memengaruhi keberadaan rentenir yang sebelumnya menjadi sumber modal mereka.

Keberadaan Dewi di tengah pasar bahkan sempat memicu ketegangan dengan rentenir lokal. Situasi tersebut berkembang menjadi apa yang disebut Dewi sebagai "perang dingin" di area pasar.

Tekanan tidak berhenti pada situasi tersebut. Salah seorang rentenir bahkan sempat mengajaknya melakukan kerja sama tidak resmi. Tawaran tersebut ditolak Dewi karena ia memilih menjaga kepentingan nasabah dan integritas sebagai bagian dari BRI.

Keputusan itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Dewi sebagai Mantri. Baginya, tugas tersebut memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar mencapai target pembiayaan.

“Bagi saya, bekerja sebagai Mantri BRI bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan jiwa yang telah menjadi bagian dari diri saya. BRI sudah menjadi darah daging bagi saya selama hampir 15 tahun ini," ujarnya.

(Dok. BRI)

Komitmen tersebut menjadi modal Dewi untuk bertahan menghadapi berbagai dinamika pekerjaan di lapangan. Selama bertahun-tahun, ia terus berinteraksi dengan pelaku usaha mikro dan memahami berbagai tantangan yang mereka hadapi.

Dalam menjalankan tugas, Dewi juga menempatkan rasa syukur sebagai bagian penting dari perjalanan kariernya. Ia berupaya menjaga fokus pada tujuan memberikan yang terbaik bagi keluarga sekaligus membantu nasabah berkembang.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa inklusi keuangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah masyarakat yang memperoleh akses pembiayaan. Edukasi dan pendampingan menjadi bagian penting agar akses tersebut dapat digunakan secara produktif.

Bagi pelaku usaha mikro, akses pembiayaan formal dapat menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber modal dengan biaya tinggi. Kehadiran tenaga pemasar di lapangan juga memungkinkan bank memahami kondisi usaha secara lebih dekat.

Peran Mantri kemudian menjadi penting karena mereka berhadapan langsung dengan masyarakat. Mereka tidak hanya memperkenalkan produk perbankan, tetapi juga membangun hubungan dengan pelaku usaha dan memahami kebutuhan pembiayaan berdasarkan kondisi bisnis.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan penguatan peran Mantri menjadi salah satu bentuk konsistensi perseroan dalam menjaga kedekatan dengan segmen mikro dan UMKM.

“Mantri menjadi salah satu ujung tombak BRI dalam menjangkau pelaku usaha secara langsung. Kehadiran mereka membantu BRI memahami kebutuhan nasabah dengan lebih dekat sekaligus memastikan akses pembiayaan dan layanan keuangan dapat benar-benar memberikan manfaat bagi perkembangan usaha masyarakat,” ujar Dhanny.

Menjaga Akses Keuangan Masyarakat

Kisah Dewi menunjukkan bahwa pekerjaan Mantri memiliki dimensi sosial yang cukup kuat. Di tengah aktivitas pembiayaan, mereka berhadapan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang usaha dan kebutuhan modal yang berbeda.

Pengalaman selama bertahun-tahun membuat Dewi melihat bahwa kepercayaan menjadi salah satu fondasi dalam hubungan antara bank dan pelaku usaha. Edukasi yang dilakukan secara konsisten menjadi jalan untuk memperkenalkan layanan perbankan formal kepada masyarakat.

Dalam konteks tersebut, keberadaan Mantri juga berfungsi sebagai penghubung antara kebutuhan modal masyarakat dan layanan keuangan yang tersedia. Pendekatan langsung membantu memperkecil jarak antara institusi keuangan dan pelaku usaha di lapangan.

Perjalanan Dewi sejak menjadi Customer Service hingga kini menangani ratusan debitur menunjukkan bagaimana pengalaman di lapangan membentuk pemahamannya terhadap kebutuhan masyarakat. Hampir 15 tahun berada di BRI juga membuat profesi tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan tantangan dalam memperluas inklusi keuangan. Di sejumlah wilayah, masyarakat masih membutuhkan pendampingan agar dapat beralih dari sumber pembiayaan informal menuju layanan keuangan formal.

Bagi Dewi, keberhasilan bukan hanya ketika pembiayaan tersalurkan. Ketika pedagang yang sebelumnya kesulitan mendapatkan modal kemudian mampu menjalankan usaha secara lebih mandiri, di situlah ia melihat arti dari pekerjaannya.

Dengan mendampingi 380 debitur mikro aktif saat ini, Dewi terus menjalankan perannya di BRI Unit Natar. Pengalaman panjangnya menjadi bagian dari upaya menjaga kedekatan BRI dengan pelaku usaha mikro sekaligus memperluas akses terhadap layanan keuangan formal.

Perjalanan tersebut juga menjadi pengingat bahwa inklusi keuangan membutuhkan kehadiran manusia di lapangan. Di balik layanan perbankan, terdapat proses membangun kepercayaan, memberikan edukasi, dan memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.

Bagi Dewi, pilihan untuk tetap berada di tengah masyarakat selama bertahun-tahun merupakan bagian dari komitmen yang telah dibangun sejak awal karier. Dari pintu ke pintu hingga mendampingi ratusan debitur, ia terus menjalankan peran sebagai Mantri BRI di tengah dinamika ekonomi masyarakat Lampung.