Dari PMI, Tati Bangun Bisnis Bubur Cirebon di Taiwan

Bloomberg Technoz, Jakarta - Tati Purwanti membuktikan pengalaman sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) dapat berkembang menjadi modal untuk membangun usaha di luar negeri. Berawal dari perjalanan merantau ke Taiwan lebih dari dua dekade lalu, Tati kini menjalankan bisnis Bubur Cirebon di Taipei.
Tati meninggalkan Indramayu untuk bekerja sebagai PMI dengan tujuan membantu perekonomian keluarga. Sebagai anak pertama sekaligus tulang punggung keluarga, keputusan merantau menjadi bagian dari upayanya mencari kehidupan yang lebih baik.
Perjalanan tersebut kemudian membawa Tati pada fase baru. Pada 2013, ia menikah dengan warga negara Taiwan dan mulai membangun keluarga di negara tersebut.
Meski telah menjalani kehidupan di Taiwan, keinginan Tati untuk memiliki usaha sendiri tidak hilang. Dengan dukungan suami, ia kembali ke Indonesia pada 2016 untuk memanfaatkan pengalaman yang diperolehnya selama berada di Taiwan.
Ketika itu, Tati melihat tren bubble tea yang berkembang pesat di Taiwan sebagai peluang usaha. Ia kemudian membawa pengalaman tersebut ke Indonesia dengan merintis bisnis minuman tersebut.
“Waktu itu saya melihat bubble tea sudah banyak di Taiwan. Melihat peluang itu, saya coba membawa pengalaman yang saya dapat selama di sana. Alhamdulillah, apa yang saya pelajari akhirnya bisa saya coba di Indonesia,” ceritanya.
Bisnis yang dimulai dari bawah tersebut berkembang secara bertahap. Tati berhasil membuka lima cabang usaha bubble tea dan mempekerjakan sekitar 35 orang.
Namun, pandemi Covid-19 yang melanda pada 2020 mengubah kondisi bisnisnya. Penurunan aktivitas ekonomi membuat Tati harus mengambil keputusan untuk kembali ke Taipei dan menata ulang perjalanan usahanya.
Kembali ke Taiwan tidak membuat Tati meninggalkan dunia usaha. Pengalaman membangun bisnis di Indonesia justru membuatnya kembali melihat peluang yang dapat dikembangkan dari lingkungan tempat tinggalnya.
Pada 2022, Tati mulai memperkenalkan Bubur Cirebon di Taiwan. Usaha tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan bisnisnya sekaligus menjadi cara untuk membawa cita rasa kuliner Indonesia ke pasar Taiwan.
Keputusan menjual bubur sempat menimbulkan keraguan. Kondisi cuaca Taiwan yang relatif panas membuat Tati mempertanyakan apakah makanan tersebut dapat diterima masyarakat setempat.
“Awalnya sempat ragu juga, Taiwan kan panas, apa orang mau makan bubur? Tapi saya pikir, kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu. Jadi waktu itu saya jalani saja dulu,” cerita Tati.
Bersama sang suami, Tati kemudian menyusun dan menyempurnakan resep Bubur Cirebon. Keduanya membutuhkan waktu sekitar delapan bulan untuk membangun usaha tersebut dari pinggir jalan.
Proses itu dilakukan sambil menjaga kualitas rasa dan memperkenalkan produk kepada pelanggan. Perlahan, Bubur Cirebon mulai menemukan pasar hingga Tati memperoleh tempat usaha yang digunakan hingga sekarang.
Usaha tersebut kemudian berkembang dan menghasilkan omzet sekitar 30.000 NTD hingga 120.000 NTD. Bagi Tati, pertumbuhan bisnis bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga membuka kesempatan untuk membantu sesama warga Indonesia di Taiwan.
Dari PMI Menjadi Pengusaha di Taiwan
Pengalaman sebagai PMI membuat Tati memahami tantangan yang dihadapi pekerja Indonesia di luar negeri. Karena itu, ketika usahanya berkembang, ia mulai membuka ruang bagi masyarakat Indonesia yang ingin bekerja di Taiwan.
“Saya dulu juga datang ke Taiwan untuk bekerja dan membantu keluarga. Jadi kalau sekarang ada kesempatan untuk membantu orang Indonesia yang mau bekerja di sini, saya bantu sebisa saya. Saya tahu mereka juga punya keluarga yang ingin dibantu,” ungkapnya.
Pertumbuhan usaha tersebut juga mengubah kebutuhan finansial Tati. Jika sebelumnya rekening BRI digunakan terutama untuk mengirim uang ke Indonesia, kini layanan perbankan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas bisnis.
Melalui BRI Taipei, Tati dapat menyetorkan penerimaan usaha. Ia juga mulai menggunakan QR Payment sebagai alternatif pembayaran bagi pelanggan.
“Dulu saya pakai BRI hanya untuk kirim uang ke Indonesia. Sekarang setelah punya usaha, kebutuhannya juga ikut berubah. Hasil penjualan yang masih tunai bisa saya setorkan melalui BRI Taipei, dan sekarang pelanggan juga mulai bisa bayar lewat QR Payment. Saya tidak pernah membayangkan perjalanan saya bisa sampai di tahap ini, dan sejauh ini petugas BRI Taiwan sangat membantu,” kata Tati.
Kisah tersebut menjadi bagian dari upaya BRI dalam membangun ekosistem layanan keuangan bagi PMI dan diaspora Indonesia. Layanan yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan remitansi, tetapi juga mengikuti perubahan kebutuhan nasabah ketika mulai membangun aktivitas ekonomi.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan pengalaman Tati menunjukkan adanya potensi besar yang dimiliki PMI untuk berkembang menjadi wirausaha setelah memperoleh pengalaman di luar negeri.
“Bagi BRI, kisah Ibu Tati menunjukkan bahwa PMI tidak hanya memiliki peran penting dalam menopang perekonomian keluarga dan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional, tetapi juga memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi wirausaha. Perjalanan dari seorang pekerja migran hingga mampu membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, dan membuka peluang bagi sesama masyarakat Indonesia merupakan wujud nyata dari semangat pemberdayaan yang ingin terus kami dorong,” ujar Hery.
Menurut Hery, keberadaan BRI di Taiwan diarahkan untuk mengikuti perjalanan finansial masyarakat Indonesia yang bekerja dan membangun kehidupan di negara tersebut. Kebutuhan nasabah dinilai terus berkembang seiring perubahan aktivitas ekonomi dan bisnis.
“Kehadiran BRI di Taiwan adalah tentang hadir lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang bekerja, berkarya, dan membangun masa depan di Taiwan. Kami ingin BRI menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan finansial di Taiwan dengan keluarga dan berbagai kebutuhan di Indonesia,” kata Hery.
Melalui BRI Taipei, konektivitas finansial antara masyarakat Indonesia di Taiwan dengan Tanah Air terus diperkuat. Layanan tersebut mencakup kebutuhan remitansi hingga transaksi sehari-hari.
Seiring berkembangnya kebutuhan nasabah, BRI juga memperluas layanan digital untuk mendukung aktivitas finansial masyarakat Indonesia di Taiwan. Salah satu langkahnya adalah peluncuran BRImo Taiwan.
BRImo Taiwan dirancang sebagai solusi mobile banking untuk masyarakat Indonesia di Taiwan. Layanan tersebut memungkinkan nasabah mengakses berbagai kebutuhan perbankan selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam sepekan.
Fitur yang tersedia mencakup transfer internasional ke Indonesia, transfer lokal di Taiwan, pembayaran, serta kebutuhan transaksi lainnya melalui satu aplikasi. Kehadiran layanan tersebut diharapkan membuat proses pengiriman atau transfer uang dari Taiwan ke Indonesia menjadi lebih praktis.
BRI Taipei sendiri beroperasi di Zhongshan District, Taipei. Hingga akhir Juli 2026, kantor tersebut mencatat total aset lebih dari US$408 juta.
Pada periode yang sama, nilai transaksi remitansi antara Taiwan dan Indonesia mencapai sekitar US$490 juta. Layanan BRI Taipei juga telah menjangkau lebih dari 3.400 rekening.
Bagi Tati, perkembangan layanan tersebut sejalan dengan perubahan perjalanan finansialnya. Dari seorang PMI yang semula menggunakan layanan perbankan terutama untuk mengirim uang kepada keluarga, kini ia memanfaatkannya untuk menopang operasional usaha.
Perjalanan Tati juga memperlihatkan bagaimana pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi modal untuk menciptakan peluang ekonomi baru. Pengalaman melihat tren bisnis di Taiwan membawanya membangun usaha di Indonesia, sebelum akhirnya kembali ke Taiwan dengan membawa produk kuliner khas Indonesia.
Kisah tersebut sekaligus menunjukkan potensi PMI sebagai pelaku ekonomi yang tidak hanya berkontribusi melalui remitansi. Setelah memperoleh pengalaman, keterampilan, dan pemahaman pasar, PMI juga memiliki peluang untuk membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, dan membuka akses ekonomi bagi masyarakat Indonesia lainnya.
Dalam konteks tersebut, BRI berupaya menempatkan layanan keuangan sebagai bagian dari perjalanan ekonomi diaspora Indonesia. Mulai dari remitansi, transaksi, pembayaran digital, hingga kebutuhan usaha, konektivitas antara Taiwan dan Indonesia menjadi bagian dari ekosistem yang terus dikembangkan.
Perjalanan Tati dari Indramayu, menjadi PMI di Taiwan, membangun bisnis bubble tea di Indonesia, hingga mendirikan Bubur Cirebon di Taipei menjadi gambaran bagaimana pengalaman migrasi dapat berkembang menjadi aktivitas kewirausahaan lintas negara.
Pada akhirnya, kisah tersebut tidak hanya berbicara tentang keberhasilan seorang mantan PMI membangun usaha. Perjalanan Tati juga mencerminkan bagaimana keterampilan, keberanian membaca peluang, dan dukungan ekosistem dapat mengubah pengalaman bekerja di luar negeri menjadi modal untuk membangun kemandirian ekonomi.































