Penerapan sesi perdagangan baru pada Senin akan menjadi ujian bagi kemampuan bursa untuk mempertahankan likuiditas yang memadai dalam jam perdagangan yang lebih panjang, sekaligus membuktikan apakah investor benar-benar menginginkan tambahan waktu tersebut di tengah meredanya minat terhadap saham Korea.
“Jendela perdagangan yang lebih panjang secara umum memberikan lebih banyak fleksibilitas bagi investor, sehingga membuat pasar menjadi lebih efisien,” kata Young Jae Lee, senior investment manager di Pictet Asset Management di London.
“Investor yang lebih berorientasi pada perdagangan dengan tingkat turnover lebih tinggi, atau jenis investor hedge fund, mungkin akan lebih sering memanfaatkannya.”
Perdagangan di luar jam reguler sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru di Korea.
Sistem perdagangan alternatif Nextrade memperkenalkan sesi perdagangan sebelum pembukaan dan malam hari pada Maret 2025, yang mencakup sekitar 600 saham, dan berhasil menguasai hampir sepertiga aktivitas perdagangan hanya dalam beberapa bulan setelah diluncurkan.
Langkah terbaru Korea Exchange membawa hal tersebut lebih jauh dengan membuka sekitar 2.400 saham di Kospi dan Kosdaq untuk perdagangan malam, termasuk short selling.
Exchange-traded fund (ETF) untuk sementara belum termasuk. Bursa tersebut juga berencana meluncurkan jam perdagangan sebelum pasar reguler pada akhir 2027.
“Ini merupakan langkah lain dalam evolusi berkelanjutan pasar modal Korea dan aksesibilitasnya bagi investor global,” kata Edward Kim, kepala penjualan saham Korea di Bank of America.
Redistribusi Likuiditas
Tidak banyak pihak yang memperkirakan aktivitas perdagangan akan langsung meningkat ketika jam perdagangan baru dibuka. Apakah sesi tersebut mampu menarik volume yang memadai masih menjadi pertanyaan utama, terutama mengingat tipisnya likuiditas yang terlihat setelah jam perdagangan pasar valuta asing diperpanjang pada Juli.
Indeks Kospi lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini hingga mencapai puncaknya di tengah euforia AI, sebelum perubahan sentimen secara tiba-tiba memicu aksi jual sebesar 22% pada Juli dan penurunan tajam turnover.
Meski demikian, indeks acuan tersebut masih naik 64% sepanjang 2026 dan tetap menjadi indeks utama dengan kinerja terbaik di dunia.
Investor asing akan menunggu dan melihat apakah benar-benar terdapat cukup banyak pembeli dan penjual pada saham-saham besar seperti Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. selama jam perdagangan malam sebelum berani melakukan transaksi dalam jumlah besar, kata Dave Mazza, chief executive officer Roundhill Financial.
“Memperpanjang jam perdagangan tidak menciptakan likuiditas; langkah tersebut hanya mendistribusikannya kembali,” kata Mazza, sambil menambahkan bahwa minat awal kemungkinan masih terbatas.
Pengalaman Nextrade dapat menjadi indikasi. Data Nextrade menunjukkan investor ritel menyumbang lebih dari 80% aktivitas perdagangan non-reguler.
Sementara itu, pergerakan harga yang tidak stabil dan minimnya partisipasi investor institusi juga menjadi tantangan.
Kemampuan investor besar melakukan lindung nilai terhadap risiko mata uang secara efektif juga menjadi persoalan lain.
Pasar valuta asing Korea secara teknis beroperasi 24 jam, tetapi perdagangan di luar jam sibuk dapat memiliki likuiditas yang tipis.
Kondisi ini dapat membuat biaya hedging lebih mahal dan membuat investor asing enggan mengalokasikan modal dalam jumlah besar untuk perdagangan saham pada malam hari.
Likuiditas juga dapat memengaruhi harga. Memindahkan saham dalam jumlah besar pada malam hari berisiko membuat investor harus membayar jauh lebih mahal atau menjual dengan harga lebih rendah dari yang diharapkan ketika pasar memiliki likuiditas tipis, kata Sanghyun Park, pendiri Clepsydra Capital.
“Risiko terbesar hanyalah terjebak dalam kondisi likuiditas yang rendah,” kata Park.
Asimetri Informasi
Terlepas dari berbagai persoalan yang masih ada, para pengamat pasar secara umum mendukung perpanjangan jam perdagangan karena memberikan investor cara yang lebih cepat untuk merespons berita atau laporan keuangan yang muncul setelah pasar reguler ditutup.
Pencatatan American depositary receipts (ADR) SK Hynix baru-baru ini juga menjadi tanda lain bahwa Korea semakin membuka diri terhadap investor asing, meskipun instrumen tersebut masih menjadi saluran yang terbatas dan terutama memberikan eksposur terhadap saham-saham perusahaan chip.
“Sesi perdagangan setelah pasar reguler ditutup mendorong kesetaraan di pasar dengan memungkinkan lebih banyak investor merespons berita yang muncul setelah penutupan pasar, sehingga mengurangi asimetri informasi dan meningkatkan keadilan pasar secara keseluruhan,” kata Tony Cheung, execution consultant specialist di Instinet.
(bbn)


























