Logo Bloomberg Technoz

Sebelum laporan inflasi dirilis, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed di kalangan ekonom yang mengamati bank sentral belum setinggi itu. Namun, setelah data tersebut keluar, sejumlah ekonom—termasuk dari TD Bank dan JPMorgan Chase & Co—mengubah proyeksi mereka dan kini memperkirakan akan terjadi kenaikan suku bunga.

“Angka ini semakin mengukuhkan pergeseran arah menuju kenaikan suku bunga,” kata Kepala Ekonom KPMG Diane Swonk. “Sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan menaikkan suku bunga, tetapi seberapa besar kenaikan yang dibutuhkan untuk mengendalikan inflasi ini.”

Sebagian besar kenaikan inflasi inti pada Agustus didorong oleh lonjakan rekor pada harga layanan telepon nirkabel, menurut data yang dihimpun Bloomberg. Meski hal tersebut dapat dipandang hanya memberikan dampak satu kali terhadap inflasi, sejumlah analis menilai The Fed tidak bisa terus mempertahankan suku bunga dengan mengandalkan harapan akan adanya perbaikan di masa mendatang.

Investor juga kemungkinan mempertimbangkan pernyataan Warsh sendiri dalam pidatonya pada 28 Agustus di Jackson Hole, Wyoming. Dalam pidato itu, ia mengatakan inflasi inti belum menunjukkan perbaikan yang berarti dan menambahkan bahwa para pembuat kebijakan masih memiliki “pekerjaan yang harus dilakukan” jika mereka tidak mendapatkan keyakinan baru bahwa inflasi berada di jalur menuju target 2% bank sentral.

“Anda tidak bisa menyampaikan pidato seperti yang Anda lakukan di Jackson Hole dan kemudian tidak mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya,” kata Sharif.

Dukungan Menguat

Dukungan terhadap kenaikan suku bunga telah menguat di internal bank sentral meskipun para pejabat mempertahankan suku bunga acuan dalam lima pertemuan tahun ini. Tiga pejabat menyatakan perbedaan pendapat pada Juli dan mendukung kenaikan seperempat poin persentase dalam pertemuan tersebut, sementara dua pejabat lain yang tidak memiliki hak suara mengatakan mereka juga akan mendukung kenaikan suku bunga.

Kelompok pembuat kebijakan yang berpandangan sebaliknya mengatakan mereka memperkirakan inflasi inti akan melambat dalam beberapa bulan mendatang. Namun, sebagian dari mereka mengakui perlu melihat lebih banyak bukti untuk mendukung keputusan mempertahankan suku bunga.

Keputusan untuk menaikkan biaya pinjaman pekan depan dapat memperkuat kredibilitas retorika antiinflasi Warsh sekaligus membantu memperbaiki dampak dari konferensi persnya pada 29 Juli, ketika ia dinilai gagal menjelaskan—setidaknya menurut pandangan investor—alasan The Fed mempertahankan suku bunga pada hari itu.

“Kenaikan suku bunga The Fed pekan depan kini tampaknya akan terjadi,” tulis ekonom Evercore ISI yang dipimpin Krishna Guha dalam catatan kepada klien pada Jumat. “Kami menilai Gubernur Warsh akan memandang data tersebut belum cukup baik untuk mengabaikan tekanan tambahan dari harga minyak dan tetap mempertahankan kredibilitas yang terguncang akibat konferensi persnya yang buruk pada Juli, dan ia kemungkinan akan mampu mendapatkan dukungan mayoritas pemilih yang cukup kuat.”

Namun, kenaikan suku bunga juga dapat memicu kemarahan Donald Trump, yang menunjuk Warsh dan terus menyerukan penurunan suku bunga. Pekan lalu, Trump bahkan mengancam akan menghentikan perdagangan dengan sejumlah negara jika The Fed tidak menurunkan suku bunga.

“Saya menduga jika The Fed mengambil langkah besar, presiden akan memberikan tanggapannya,” kata Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett dalam wawancara dengan Michael McKee di Bloomberg TV pada Jumat.

Jika Trump berbalik menyerang Warsh, yang pekan lalu masih ia sebut sebagai “pemimpin baru yang hebat” bagi The Fed, Warsh mungkin akan menghadapi lebih dari satu kenaikan suku bunga yang menjadi sasaran kritik.

Dengan konflik di Iran yang terus berlanjut, harga minyak kembali melonjak. Minyak mentah Brent sempat mencapai US$109 per barel pada Kamis. Selain itu, para ekonom menilai sejumlah faktor utama yang mendorong inflasi lebih tinggi, seperti pembangunan pusat data, kecil kemungkinan akan mereda dalam waktu dekat.

Konsumen juga tampak khawatir. Survei terbaru Universitas Michigan menunjukkan ekspektasi inflasi untuk satu tahun ke depan melonjak menjadi 4,6% pada awal September dari 4% sebulan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak 2023, mayoritas konsumen juga memperkirakan suku bunga akan meningkat dalam 12 bulan mendatang.

Sejumlah pejabat The Fed berpendapat tingkat suku bunga saat ini tidak lagi menekan permintaan sebesar yang diperkirakan sebelumnya. Selain itu, meskipun kenaikan upah tampaknya tidak menambah tekanan inflasi, tingkat pengangguran masih rendah dan secara luas dinilai stabil.

Seluruh kondisi tersebut dapat memperkuat alasan bagi The Fed untuk membatalkan pemangkasan suku bunga sebesar 75 basis poin yang dilakukan tahun lalu, ketika kekhawatiran terhadap potensi perlambatan pasar tenaga kerja masih lebih besar.

Dalam survei Bloomberg terhadap para pelanggan yang dilakukan pada 8-10 September, mayoritas responden mengatakan jika The Fed menaikkan suku bunga pekan depan, kemungkinan langkah tersebut hanya berupa penyesuaian satu atau dua kali kenaikan. Namun, sejumlah ekonom pada Jumat mengatakan mereka kini memperkirakan kenaikan yang lebih banyak.

"The Fed perlu menarik kembali tiga kali pemangkasan suku bunga yang mereka terapkan pada akhir 2025 dan memperlambat laju ekonomi yang kemungkinan akan tumbuh jauh di atas tren pada kuartal ini," tulis Joseph Brusuelas, kepala ekonom di RSM US LLP, dalam catatannya kepada para klien.

(bbn)

No more pages