Para sumber di industri pertambangan belum dapat memprediksi akhir dari gangguan cuaca dan lingkungan ini. Ketidakpastian situasi ini menambah potensi gangguan pasokan jangka panjang pada rantai pasok industri aluminium domestik maupun global.
“Hingga saat ini, situasi masih berlanjut dan diperkirakan akan terus berlangsung tanpa batas waktu,” tambah SMM.
Jalur Nadi
Untuk diketahui, Kabupaten Sanggau dan wilayah sekitarnya di Kalimantan Barat merupakan salah satu penghasil bauksit terbesar di Indonesia, dengan Sungai Kapuas sebagai urat nadi utama pendistribusiannya.
Selain pilihan pengangkutan darat, Sungai Kapuas menyediakan sarana logistik alami yang sangat efisien, memungkinkan tongkang-tongkang besar mengangkut bijih bauksit mentah langsung dari area tambang darat menuju pelabuhan muat atau kilang pengolahan (smelter).
Tonase yang diangkut melalui perairan ini bergantung pada kapasitas produksi serta operasional smelter alumina di Kalimantan Barat, seperti milik PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) di Ketapang atau proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah yang dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).
Adapun, volume pengangkutan bauksit yang lalu lalang di koridor logistik Sungai Kapuas jika berdasarkan pada volume produksi dua smelter besar tersebut berkisar antara 1,5 hingga 3 juta ton per tahun.
Meskipun akan bergantung pada dinamika kuota produksi, regulasi ekspor, dan pasokan untuk peleburan domestik.
Kendati vital, jalur distribusi melalui Sungai Kapuas menghadapi tantangan alamiah yang memengaruhi konsistensi pengiriman.
Pada musim kemarau, penurunan debit air kerap memicu pendangkalan sungai, sehingga armada tongkang harus menurunkan muatannya (lightening) atau bahkan menghentikan operasional sementara agar tidak kandas.
Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan penyusutan debit air di sepanjang aliran Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam memicu hambatan signifikan pada proses distribusi batu bara, meskipun produksi saat ini berada dalam kondisi optimal.
Ketua Komite Pertambangan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Apindo Hendra Sinadia menjelaskan penurunan debit air kedua sungai besar di Kalimantan itu mengganggu proses pemuatan (loading) batu bara hingga aktivitas alih muat kapal (transhipment) di sejumlah kawasan pelabuhan dan alur pelayaran.
“Memang sejauh ini beberapa sungai dilaporkan mulai surut. Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam terdampak oleh kekeringan ini,” ungkap Hendra saat dihubungi, Kamis (10/9/2026).
Sayangnya, Hendra menyebut asosiasi belum memegang data dampak riil kekeringan terhadap total pengiriman pasokan, baik untuk kebutuhan ekspor maupun pemenuhan pasar domestik.
“Kami belum memiliki data dampak riilnya terhadap pengiriman, baik ekspor maupun domestik,” katanya.
Di sisi lain, penyusutan Sungai Kapuas juga berdampak pada distribusi ke terminal bahan bakar minyak (TBBM) Sintang, Kalimantan Barat oleh PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Direktur Utama PT PPN Mars Ega Legowo Putra menjelaskan fasilitas darurat tersebut telah disiapkan per Selasa (8/9/2026) dan bakal menjadi titik pengganti sementara TBBM Sintang.
Dia mengungkapkan fasilitas darurat tersebut bakal beroperasi hingga sungai yang digunakan untuk jalur distribusi ke TBBM Sintang kembali normal.
“Sebagaimana kami laporkan untuk wilayah Kalimantan Barat, ada terminal BBM di Sintang yang memang kami kesulitan mengakses dan per hari ini kami menyiapkan fasilitas darurat di Tayan,” kata Mars Ega dalam RDP di Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9/2026).
“Jadi di Tayan ini akan menjadi hub pengganti di Sintang untuk sementara sampai dengan situasi sungai itu dapat berjalan secara normal,” tegasnya.
Selain itu, Mars Ega juga mengungkapkan terdapat sejumlah titik di Kalimantan Timur yang sulit dilalui oleh kapal pengangkut BBM.
Dia menyatakan perseroan menyiapkan tambahan armada agar pengiriman ke wilayah tersebut dapat ditingkatkan ketika sungai sudah dapat dilalui.
“Jadi kapalnya kita coba tambah. Jadi begitu sungai bisa masuk, itu sudah langsung kapasitasnya dinaikkan dua kali lipat. Namun, sekali lagi, pasokan sungai tentu kami menunggu pada posisi pasang surutnya air tersebut,” ujarnya.
(smr/wdh)
































