Logo Bloomberg Technoz

Jeda pembelian dari importir terbesar di dunia ini sebelumnya menjadi salah satu faktor utama yang menahan kenaikan harga pada awal konflik, dan dimulainya kembali pembelian tersebut membuat sejumlah indikator pasar utama diperdagangkan di level terkuatnya dalam beberapa pekan terakhir. 

Harga Brent telah naik lebih dari 60% tahun ini dan kini berada di atas US$100 untuk ketiga kalinya tahun ini.

Produk olahan seperti solar mengalami kenaikan yang lebih tajam seiring meluasnya konflik di Timur Tengah ke Laut Merah dekat Arab Saudi, bersamaan dengan perang Rusia-Ukraina.

Kenaikan harga tersebut secara bersama-sama mengancam akan memicu gelombang baru tekanan inflasi yang harus dihadapi para gubernur bank sentral di seluruh dunia. 

"Tren yang paling mungkin terjadi adalah kenaikan harga yang kuat dan stabil seiring perang memasuki bulan ketujuh," ujar Darrell Fletcher, direktur pelaksana bidang komoditas Bannockburn Capital Markets.

"Gambaran fundamental untuk produk minyak tetap bullish [cenderung naik] mengingat menipisnya persediaan dan cadangan global. Pola yang terjadi saat ini menunjukkan AS dan Iran terus saling melancarkan serangan balasan dan peringatan."

(bbn)

No more pages