"Kapasitas penyulingan yang kita jalankan saat ini masih belum cukup untuk mencegah pengurangan cadangan tersebut," ujarnya.
Harga diesel—dikenal sebagai bahan bakar penggerak utama ekonomi global—telah melonjak lebih tinggi dibandingkan harga minyak mentah sejak awal perang.
Lonjakan harga acuan gasoil ICE tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan kenaikan harga minyak Brent, sehingga menimbulkan tekanan inflasi meski harga minyak mentah relatif stabil. Saat ini, harga minyak mentah juga bergerak mendekati level US$100 untuk pertama kalinya sejak Juli.
Di Amerika Serikat, harga eceran diesel telah mencetak rekor baru, melampaui puncak harga sebelumnya yang tercatat pada Juni 2022.
Margin keuntungan solar yang menggiurkan telah mendorong kilang-kilang di luar Rusia dan Timur Tengah beroperasi secara maksimal demi meraih keuntungan. Namun, waktu terus berjalan dan mereka tidak tahu berapa lama lagi mereka dapat mempertahankan kinerja tersebut.
Peralatan kilang menjadi semakin rentan terhadap kerusakan jika dioperasikan pada tingkat utilisasi tinggi dalam waktu yang terlalu lama. Hal ini akan menyebabkan gangguan operasional pada saat cadangan terbatas, yang akan memperburuk krisis.
"Jika kita bisa bertahan hingga akhir tahun ini, itu akan menjadi sebuah pencapaian," kata Shaikh Khaled Al-Sabah, Direktur Pelaksana Pemasaran Internasional Kuwait Petroleum Corp, mengenai sistem penyulingan global.
Kondisi ini menimbulkan risiko "kekurangan pasokan bahan bakar yang sangat besar dalam waktu dekat," tambahnya.
Ekspor AS telah membantu meredakan ketatnya pasokan, terutama di Eropa yang sangatbergantung pada impor.
Namun, situasi ini mungkin tidak akan bertahan lama seiring meningkatnya konsumsi diesel di wilayah tersebut akibat penurunan suhu, mengingat produksi AS tidak bertambah meski volume pengiriman telah meningkat.
"Saya rasa kita akan menghadapi musim dingin yang sangat berat di Eropa Barat Laut," kata Al-Sabah dari KPC. "Ini baru permulaan."
(bbn)






























