Logo Bloomberg Technoz

Dengan begitu, dua seri SPNS mendulang penawaran sebesar Rp12,29 triliun, hampir separuh dari total penawaran yang masuk. Kemudian pemerintah menyerap Rp4,2 triliun dari kedua seri ini.

Sedangkan, pada kelompok sukuk bertenor menengah seperti PBS040 (tenor 4 tahun) mencatat incoming bids Rp3,76 triliun. Pemerintah memenangkan Rp2,95 triliun, dan mencatat nilai penyerapan terbesar pada lelang kemarin. Namun, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan naik menjadi 6,9% dari 6,81%.

Sementara itu, PBS030 (tenor 2 tahun) menerima penawaran Rp3,11 triliun. Pemerintah memenangkan Rp1,55 triliun dengan yield 6,8%, melonjak dari 6,63%. Kendati nominal incoming bids masih cukup besar, angka ini turun dari Rp3,6 triliun pada lelang sebelumnya. Perubahan yield ini menggambarkan investor sedang meminta imbal hasil lebih tinggi untuk meminang sukuk pada seri tersebut.

Di sisi lain, PBS002 (tenor 7 tahun) menerima penawaran sebesar Rp1,173 triliun dan pemerintah hanya memenangkan Rp200 miliar, lantaran yield berada di 7,02%.

Adapun, PBS034 (tenor 13 tahun) mendapat penawaran Rp2,21 triliun. Pemerintah memenangkan seri ini sebesar Rp1,55 triliun dengan yield 7,13%, naik sekitar 3,8 bps.

Lelang sukuk kali ini memperkuat indikasi bahwa investor cenderung memilih durasi yang lebih pendek, mengingat arah suku bunga acuan belum begitu terang. Mengunci yield di tenor pendek memberi fleksibilitas lebih besar apabila terjadi perubahan arah suku bunga.

Pelaku pasar tengah mencermati arah suku bunga acuan dari bank sentral Amerika Serikat (AS) yang baru akan terang setelah data inflasi PPI dan CPI AS dirilis pada Kamis dan Jumat pekan ini.

Data tenaga kerja AS yang cukup positif dengan penambahan 162 ribu pekerjaan pada Agustus membuat arah kebijakan suku bunga AS bergantung pada data inflasi. Jika inflasi menguat, maka pelaku pasar berekspektasi The Fed akan bersikap lebih hawkish.

(dsp/aji)

No more pages