Ketika ditanya perihal total kewajiban atau utang Whoosh yang saat ini harus diselesaikan pemerintah, Bendahara Negara ini mengatakan akan melihat terlebih dahulu kebutuhan pembayaran Whoosh dari tahun ke tahun.
Namun, memastikan cicilan utang Whoosh tidak semenyeramkan itu untuk diselesaikan terlebih setelah dilakukannua restrukturisasi di bawah pihaknya.
"Saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa sih, oh kalau segini aja cukup lah ditangani oleh satu SMV, satu perusahaan SMV di bawah Departemen Keuangan, atau dua. Tapi uangnya cukup lebih," tuturnya.
"Berarti kan total utang besar, tapi di-stretch 80 tahun sudah di restrukturisasi. cicilannya Rp1 [triliun] atau sedikit di bawah Rp1 dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi ada yang rendah, tapi kalau kita lihat oh masih bisa lah," pungkasnya.
Sebelumnya, Purbaya mengatakan SMV yang akan ditunjuk untuk membereskan utang Whoosh sudah memiliki uang. Dia mencontohkan saat ini satu perusahaan SMV Kemenkeu memiliki keuntungan Rp3–4 triliun per tahun, di tambah dengan pendapatan operasional dari mengelola Whoosh, SMV tersebut bisa memiliki keuntungan sebesar Rp800 miliar.
“Cukuplah untuk bayar utang [Whoosh] yang ada sekarang, nanti kita hitung,” ungkap Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (7/9/2026).
Purbaya menambahkan pada pertengahan bulan ini, Danantara akan mengalihkan Whoosh kepada Kemenkeu. Peralihan ini menggunakan skema inbreng di mana Kemenkeu akan mengambilalih 60% saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia yang ada di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
“Ini dana penyertaan ekuitas dikasih ke saya, nol rupiah. SMV saya menanggung utang [Whoosh] ke depannya. Jadi tidak ada biayanya buat saya. Nanti tiap tahun BUMN yang di bawah Kemenkeu akan bayar itu,” terang Purbaya.
(lav)
























