“Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan bahan baku dan barang modal impor tetap kuat,” tutur dia.
Tekanan Migas Berpotensi Mereda
Meski impor masih menjadi sumber tekanan, Banjaran melihat tekanan dari neraca perdagangan migas berpotensi mereda. Dia mencatat, harga minyak dunia rerata berada di level US$83,9 per barel pada Juli 2026. Harga tersebut bergerak lebih moderat dibandingkan kondisi pada kuartal II-2026.
Dengan demikian, penurunan tekanan harga minyak berpotensi membantu mengurangi defisit neraca perdagangan dari sisi migas.
Sementara dari sisi ekspor, kinerja ekspor nonmigas diperkirakan masih menjadi penopang utama neraca perdagangan Indonesia. Banjaran menyebut pertumbuhan ekspor nonmigas pada Juni 2026 yang mencapai 9,46% yoy berpotensi berlanjut pada Juli.
“Hal tersebut sejalan dengan harga komoditas utama, seperti crude palm oil (CPO) yang relatif stabil,” terangnya.
Dengan kondisi tersebut, Banjaran memperkirakan defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 akan semakin terbatas. Meski demikian, kuatnya permintaan impor masih menjadi faktor yang menahan neraca perdagangan Indonesia untuk kembali mencatatkan surplus.
(lav)































