"Industri otomotif China telah memasuki tahap penyesuaian mendalam dan divergensi yang ditandai dengan 'permintaan domestik yang lesu dan pertumbuhan ekspor yang kuat'," ungkap BYD dalam laporan tengah tahunannya. "Momentum pertumbuhan luar negeri grup ini akan terus dipacu."
Situasi lebih buruk dialami oleh produsen mobil asing seperti Volkswagen AG dan Mercedes-Benz Group AG, yang selama dua dekade terakhir sangat bergantung pada pasar China tempat penjualan mereka sempat tumbuh secara eksponensial.
Saat ini, konsumen China semakin memandang mobil-mobil asing—yang dulunya sangat diminati—sebagai produk yang terlalu mahal dan ketinggalan zaman. General Motors Co., perusahaan andalan AS yang pernah mencetak laba tahunan sebesar US$2 miliar di China, justru mencatat kerugian di pasar tersebut selama dua tahun terakhir.
Lesunya industri yang berkepanjangan—kini memasuki bulan kesepuluh—masih berlanjut hingga Juli, periode terakhir yang datanya tersedia. Total penjualan kendaraan penumpang di negara tersebut turun 21% bulan lalu, berdasarkan data dari China Passenger Car Association (CPCA).
Akibatnya, menurut Bloomberg Intelligence, sebagian besar produsen mobil—termasuk BYD—mengalami penurunan pendapatan ritel di pasar domestik akibat perang harga yang terus berlanjut.
Selain itu, Beijing baru-baru ini memperketat pengawasan terhadap industri ini. Pemerintah berjanji akan mencermati siklus pengembangan produk yang sangat cepat dari para produsen mobil guna memastikan mereka tidak mengabaikan aspek keselamatan pada model-model terbaru mereka.
Di tengah kondisi pasar domestik yang sulit, pasar luar negeri telah menjadi pendorong utama pertumbuhan bagi produsen mobil China sepanjang tahun ini, termasuk pada bulan Juli. Menurut CPCA, total penjualan kendaraan penumpang China ke luar negeri melonjak 88% bulan lalu.
Alasannya jelas. Di banyak negara, produsen mobil China dapat menaikkan harga jual kendaraan mereka namun tetap menawarkan harga yang lebih rendah dibandingkan pesaing lokal. Hal ini lebih dari cukup untuk menutupi biaya pengiriman kendaraan ke luar negeri.
Sebagai contoh, ambil model SUV plug-in hybrid BYD Seal U. Harga jualnya di Jerman mulai dari 39.900 euro (US$46.200)—lebih dari dua kali lipat harga versi China yang dijual di Beijing—menurut situs web jual-beli mobil.
Margin keuntungan yang lebih besar di pasar luar negeri tersebut mendorong laba bersih BYD pada kuartal kedua naik 30% menjadi 8,2 miliar yuan. Angka ini sedikit melampaui rata-rata perkiraan analis yang dihimpun Bloomberg, sekaligus memberikan angin segar bagi perusahaan di tengah persaingan sengit di pasar domestik dari para pesaing yang lincah seperti Xiaomi Corp. dan Xpeng Inc.
Meskipun angka pengiriman BYD masih belum mencapai target tahunan perusahaan, ekspor menjadi faktor utama mengapa para analis memprediksi pemulihan laba akan semakin cepat hingga akhir tahun. Perkiraan yang dihimpun Bloomberg bahkan memprediksi laba dan pendapatan akan mencapai rekor tertinggi pada kuartal keempat.
Namun, tantangan membayangi seiring dengan semakin tidak bersahabatnya lingkungan perdagangan global terhadap produk impor asal China. Pasar AS, misalnya, praktis tertutup bagi produsen mobil China. Uni Eropa sedang mempertimbangkan pengenaan tarif baru terhadap kendaraan hibrida asal Tiongkok, sebagaimana dilaporkan oleh Handelsblatt pada bulan Juni.
Langkah ini berpotensi membatasi pasar yang menguntungkan, pasar yang justru berkembang setelah blok tersebut memberlakukan tarif terhadap mobil listrik murni dari negara Asia tersebut. Produsen mobil Tiongkok saat ini sudah menghadapi tarif Uni Eropa untuk kendaraan listrik murni; kebijakan serupa juga telah diterapkan oleh sejumlah negara lain, termasuk Brasil dan Meksiko, guna membendung lonjakan impor dari Tiongkok.
Situasi ini mendorong BYD untuk berkomitmen memproduksi sebagian kendaraannya di wilayah pasar utama tempat mereka mencatatkan penjualan tertinggi, seperti di Eropa dan Amerika Selatan.
Namun, pabrik unggulan BYD yang sedang dibangun di Hungaria kini mendapat sorotan terkait dugaan pelanggaran hak-hak pekerja oleh pihak subkontraktor. Sementara itu, pergantian pemerintahan di Budapest memicu penyelidikan terhadap subsidi negara, keringanan pajak, dan pengecualian aturan lingkungan yang sebelumnya diberikan kepada BYD.
Perusahaan tersebut, yang menyatakan telah mematuhi hukum dan peraturan setempat, telah menunda dimulainya produksi di Hungaria hingga kuartal keempat, atau sekitar satu tahun lebih lambat dari target awal.
BYD berupaya menjajaki segala peluang, bahkan berusaha menembus pasar Jepang, sebuah pasar yang sangat sulit ditembus hingga membuat produsen mobil global seperti Ford Motor Co. sudah lama menghentikan upaya mereka di sana. Perusahaan asal Tiongkok ini baru saja mulai memasarkan Racco, sebuah kendaraan listrik (EV) mungil yang dirancang khusus untuk jalanan sempit di Jepang, sekaligus memasuki segmen terbesar dalam industri otomotif negara tersebut.
(bbn)




























