Awal tahun ini, perusahaan yang dipimpin oleh Ga-Hyun Chung itu memulai spekulasi terbesar dalam sejarah kapal tanker minyak, dengan membeli puluhan kapal sebelum perang Iran dimulai dan menyewakannya dengan tarif tinggi.
Konflik Iran telah mengguncang acuan utama tanker minyak dunia karena pergerakan kapal yang keluar-masuk Teluk Persia menjadi semakin sulit dipantau. Sebelum konflik terjadi, pemilik kapal dan pedagang komoditas mengandalkan rute ini sebagai tolok ukur pendapatan supertanker global, dengan nilai transaksi derivatif yang signifikan juga terkait dengan acuan tersebut.
Pengangkutan minyak melalui Selat Hormuz pada praktiknya melibatkan dua komponen biaya pelayaran. Ada biaya sekaligus (lump sum) untuk membawa kapal melewati selat tersebut, kemudian—setelah muatan dipindahkan ke tanker lain di luar Hormuz—berlaku tarif rendah berdasarkan rute perjalanan dari Oman ke China.
Biaya sewa kapal untuk berlayar dari Oman ke China saat ini sekitar US$220.000 per hari, dibandingkan dengan US$131.000 sebulan yang lalu.
CEO TotalEnergies SE, Patrick Pouyanne, menyatakan awal pekan ini bahwa biaya untuk mengangkut minyak melalui Selat Hormuz mencapai sekitar US$20 juta. Dua pelaku pasar tanker menyatakan bahwa angka tersebut terus meningkat sepanjang pekan ini.
Selain meningkatnya volume minyak yang dikirim keluar dari Teluk Persia, gangguan pelayaran lainnya juga turut meningkatkan pendapatan. Serangan terhadap kapal tanker Saudi oleh Houthi dari Yaman telah membuat kerajaan tersebut mengalihkan sebagian ekspornya ke utara, melalui Laut Mediterania, dan menempuh ribuan mil mengelilingi Afrika. Hal itu umumnya menambah waktu perjalanan ke Asia sekitar 30 hari.
Pada saat yang sama, kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sering kali memindahkan muatannya ke kapal lain begitu mereka meninggalkan jalur pelayaran tersebut. Proses ini juga dapat memakan waktu dan mengurangi ketersediaan armada kapal.
(bbn)





























