Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg News memberitakan, Iran dan Oman tengah membahas kerangka kerja sementara untuk membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz. 

Berita ini membuat harga minyak dunia jatuh. Kemarin, harga minyak jenis brent ambruk hampir 4% ke US$ 86,99/barel.

Kekhawatiran meredanya lonjakan harga energi ikut meredakan kecemasan akan lonjakan inflasi. Artinya, bank sentral di berbagai negara termasuk Federal Reserve dari Amerika Serikat (AS) sepertinya belum perlu terlalu terburu-buru mengetatkan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

Sentimen kedua adalah koreksi imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Kemarin, yield surat utang Negeri Adikuasa tenor 10 tahun turun 7 basis poin (bps) ke 4,634%.

Penurunan yield obligasi ikut menyeret nilai tukar dolar AS. Kemarin, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah 0,1% ke 98,8.

Emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Saat mata uang Negeri Paman Sam terdepresiasi, emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain sehingga tercipta aksi beli.

Sentimen ketiga, lagi-lagi terkait Tfe Fed, adalah penantian investor akan simposium tahunan di Jackson Hole (Wyoming), akhir pekan ini. Pasar menantikan bagaimana arah kebijakan The Fed.

Fidelity International Ltd, pengelola dana asal AS, mengungkapkan bahwa ketidakpastian terkait arah kebijakan The Fed membuat mereka memupuk emas dalam tiga pekan terakhir. George Efstathopoulos, Manajer Portofolio di Fidelity, menyebut akan mempertimbangkan untuk menaikkan batas investasi di emas yang saat ini ada di 5%. Ini dilakukan karena status aset aman (safe haven) yang digenggam dolar AS kian pudar.

“Menurut saya, ini karena kurangnya kredibilitas The Fed dan kebutuhan akan kepastian kebijakan,” kata Efstathopoulos, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Analisis Teknikal

Lantas bagaimana proyeksi harga emas untuk hari ini, Rabu (26/8/2026)? Apakah akan terjadi kenaikan empat hari beruntun?

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas nyaman di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 71. RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang berada di posisi bullish.

Sementara itu, indikator Stochastic RSI 14 hari berada di 88. Menghuni area beli (long) yang kuat, bahkan sudah jenuh (overbought).

Untuk perdagangan hari ini, harga emas berisiko turun. Kenaikan yang sudah lumayan tinggi akan menciptakan risiko koreksi.

Target support terdekat ada di US$ 4.597/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5. Support lanjutan di di rentang US$ 4.572-4.536/troy ons.

Emas sudah diperdagangkan di atas MA-200 dengan jarak yang terus melebar dengan harga saat ini. Artinya, harga emas sudah mahal dan makin mahal sehingga kian sulit mengharapkan terjadinya aksi beli yang masif.

Harga Emas di Pasar Spot (Sumber: Bloomberg)

Namun kalau harga emas masih bisa naik lagi, maka target resisten terdekat adalah US$ 4.688/troy ons. Penembusan di titik ini berpotensi mengerek harga ke level US$ 4.708-4.724/troy ons.

Target paling optimistis ada di US$ 4.810/troy ons.

(aji)

No more pages