“Saya kira belum karena kemarin hasil dari lapangan penanganan yang itu koordinasi lintas sektor juga sudah cukup kuat. Kalaupun ada keperluan penambahan beberapa peralatan, termasuk heli water bombing, termasuk APD dan penambahan pasukan sudah semua dikerjakan,” katanya.
Adapun, terkait dengan pembagian wilayah tugas dan koordinasi pejabat teknis di lapangan, Prasetyo menyampaikan bahwa Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) serta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) turut turun langsung memimpin koordinasi.
Selain itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) juga telah ditunjuk untuk memegang tanggung jawab pembinaan dan operasi di wilayah tertentu.
“Ya ada Menko Polkam, dan Menko PM ada di situ. Kita bagi semua, KASAD juga bertanggung jawab terhadap satu wilayah,” katanya.
Meski begitu, Prasetyo menggarisbawahi bahwa penunjukan penanggung jawab wilayah tersebut bertujuan untuk mempercepat proses penanganan dan memberikan perhatian khusus, bukan berarti mengabaikan daerah terdampak lainnya.
“Tapi jangan juga diartikan tidak bertanggung jawab dengan daerah yang lain lo ya. Ini hanya memberi atensi supaya ada percepatan (penanganan),” ungkapnya.
Untuk diketahui, Pemerintah memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan dengan mendatangkan pasukan tambahan sebanyak tiga batalion TNI atau sekitar 1.200 hingga 1.500 prajurit dari luar Pulau Kalimantan (seperti dari Pulau Jawa).
Pengerahan pasukan tambahan ini dilakukan menyusul instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto setelah meninjau secara langsung kondisi karhutla di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Prajurit TNI dari tiga batalion tersebut mulai diterjunkan secara bertahap sejak Sabtu hingga Minggu (23/8/2026) pagi untuk memperkuat satuan terdepan yang sudah lebih dulu beroperasi.
Penambahan personel darat ini disiagakan khusus untuk menyisir dan memadamkan titik-titik panas di area yang sulit dijangkau, dengan fokus utama melakukan penyiraman, pemanduan operasi pemadaman, hingga pendinginan lahan guna mencegah api kembali menyala di lapisan bawah tanah.
Selain pengerahan pasukan darat, penanganan karhutla di Kalimantan juga diperkuat dengan dukungan operasi udara melalui penambahan armada helikopter water bombing serta pengerahan pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Personel TNI di lapangan berkolaborasi erat dengan BPBD, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Polri, serta relawan setempat guna memaksimalkan pompanisasi dan pembuatan sumur bor, terutama pada kawasan lahan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
(smr/ros)
























