Logo Bloomberg Technoz

"Mengingat kini sudah hampir pasti inflasi akan terus meningkat, saya rasa mulai pertemuan September nanti, setiap rapat BOJ akan menjadi pertemuan yang benar-benar terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga kapan saja," kata Kepala Ekonom Meiji Yasuda Research Institute, Yuichi Kodama.

BOJ juga mengubah penilaiannya terhadap keseimbangan risiko pertumbuhan ekonomi. Jika sebelumnya risiko dinilai cenderung mengarah ke pelemahan, kini bank sentral menyebut risikonya lebih seimbang. Hal tersebut mengindikasikan dampak negatif konflik di Timur Tengah tidak sebesar yang semula dikhawatirkan, sementara meningkatnya permintaan global terhadap teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membantu menopang perekonomian.

Secara keseluruhan, pesan yang disampaikan dewan pimpinan Gubernur Kazuo Ueda menunjukkan bahwa BOJ masih berada di jalur untuk kembali menaikkan suku bunga, mengingat pelemahan yen yang berkepanjangan berpotensi memperbesar tekanan inflasi. Investor yang semakin banyak memperkirakan perubahan kebijakan pada Oktober akan mencermati petunjuk lebih lanjut dari konferensi pers Ueda yang dijadwalkan dimulai pukul 15.30 waktu Tokyo.

Dalam proyeksi ekonomi kuartalan terbaru, dewan BOJ mempertahankan estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun ini dan tahun depan, dengan pertumbuhan ekonomi tahun fiskal ini diperkirakan mencapai 0,6%. Sementara itu, proyeksi inflasi utama direvisi turun menjadi 2,5% dari sebelumnya 2,8%, dengan alasan adanya dampak subsidi pemerintah. Proyeksi tersebut secara umum sejalan dengan ekspektasi para ekonom yang disurvei Bloomberg.

Yen melemah ke kisaran 160,88 per dolar AS sesaat setelah keputusan BOJ diumumkan. Sehari sebelumnya, otoritas Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing saat perdagangan di New York, yang sempat mendorong yen menguat hingga 3,3% terhadap dolar AS.

Pemerintah Jepang belum mengonfirmasi secara resmi adanya intervensi tersebut. Namun, pejabat tertinggi urusan mata uang Jepang, Atsushi Mimura, pada Jumat mengatakan bahwa Jepang tidak hanya memperoleh dukungan moral dari Amerika Serikat.

"Jika dampak intervensi tidak bertahan lama dan yen kembali melemah melewati level 160 per dolar AS, pandangan bahwa kini giliran BOJ untuk bertindak kemungkinan akan semakin memicu spekulasi kenaikan suku bunga," ujar Kodama dari Meiji Yasuda.

Pelaku pasar valuta asing kini menanti apakah pernyataan Ueda akan mengecewakan investor apabila terdengar terlalu dovish saat menjelaskan alasan BOJ mempertahankan kebijakan moneternya.

Perekonomian Jepang sejauh ini menunjukkan ketahanan setelah pecahnya perang di Iran, berkat tingginya permintaan global terhadap teknologi AI serta kemajuan dalam memperoleh sumber bahan baku alternatif. Sentimen produsen besar bahkan secara tak terduga meningkat bulan lalu ke level tertinggi sejak 2018.

Keputusan BOJ diumumkan setelah pemerintah Perdana Menteri Sanae Takaichi merilis pedoman ekonomi tahunan. Dokumen pertama di era pemerintahan Takaichi, yang dikenal sebagai pendukung kebijakan moneter longgar, menekankan pentingnya kebijakan moneter dalam memperkuat perekonomian. Banyak ekonom menafsirkan pernyataan tersebut sebagai sinyal bahwa Takaichi menginginkan proses normalisasi kebijakan berjalan secara bertahap.

Mayoritas pengamat BOJ memperkirakan kenaikan suku bunga akan dilakukan sekitar sekali setiap enam bulan. Sekitar 60% responden dalam survei Bloomberg menyebut Takaichi sebagai salah satu faktor utama yang dapat menghambat kenaikan suku bunga lebih lanjut. Sementara itu, pasar memperkirakan peluang sekitar 80% bahwa kenaikan suku bunga berikutnya akan terjadi pada Oktober, berdasarkan harga di pasar overnight swaps hingga Jumat.

(bbn)

No more pages