Lalu dilanjutkan dengan pelepasan 13 truk genteng dari sentra UMKM Plered (Kabupaten Purwakarta) pada 14 April 2026. Adapun tercatat seluruh pasokan genteng lokal ini disalurkan untuk mendukung pembangunan 40.000 unit BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) serta 62.591 unit Rumah Subsidi di seluruh Indonesia.
Selain itu, Ara turut menyampaikan skema KPR dengan tenor hingga 40 tahun yang juga telah dijalankan. Kata dia, tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dan dilaksanakan bersama Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), Kementerian Keuangan, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menurutnya, masyarakat diberikan fleksibilitas dalam memilih jangka waktu pembiayaan sesuai kemampuan masing-masing.
"Jadi itu pilihan. Kalau yang mau 10 tahun boleh, 20 tahun boleh, 25 tahun boleh. Kalau yang tadinya 30 tahun, bisa jadi 5 tahun atau 10 tahun juga nggak apa-apa. Kita kasih option," tuturnya.
Sekadar catatan, hingga akhir Juli 2026, akumulasi realisasi pembiayaan yang berhasil disalurkan oleh sektor perbankan untuk sektor Kredit Program Perumahan (KPP) telah mencapai Rp21,8 triliun dengan total 98.958 debitur.
Penyaluran dana tersebut ditopang kuat oleh kolaborasi berbagai lembaga keuangan. Sektor Himbara menjadi penyalur terbesar dengan total kontribusi utama berasal dari BRI (Rp10,94 triliun) dan BTN (Rp4,39 triliun), disusul oleh BNI (Rp2,24 triliun), Bank Mandiri (Rp1,43 triliun), serta BSI (Rp1,15 triliun).
Di jajaran perbankan daerah, Bank Jateng memimpin penyaluran sebesar Rp619,51 miliar, diikuti Bank BJB (Rp270,01 miliar), Bank Sumut (Rp147,74 miliar), Bank Jatim (Rp89,97 miliar), dan Bank NTB Syariah (Rp58,09 miliar). Sementara itu, dari sektor swasta, Nobu Bank turut menyumbang sebesar Rp381,80 miliar dan Bank Artha Graha Internasional (AGI) sebesar Rp13,5 miliar.
Secara sektoral, pembiayaan ini terserap ke dua jalur utama ekosistem perumahan. Pada sektor demand atau permintaan, realisasi mencapai Rp14,878 triliun untuk 96.196 debitur yang didominasi oleh subsektor real estate (89.360 debitur), konstruksi (4.744 debitur), serta perdagangan dan eceran (2.092 debitur).
Sementara pada sektor penyediaan, alokasi terserap sebesar Rp6,940 triliun untuk 2.762 debitur, yang mencakup 1.360 toko bahan bangunan, 1.103 pengembang (developer), dan 299 kontraktor.
Adapun secara geografis, penyerapan KPP tertinggi tersebar di lima provinsi, di mana Jawa Tengah memimpin dengan nilai realisasi sebesar Rp4,96 triliun (28.275 debitur). Posisi berikutnya ditempati oleh Jawa Timur dengan Rp3,65 triliun (20.156 debitur), Jawa Barat sebesar Rp3,44 triliun (16.583 debitur), Sulawesi Selatan sebesar Rp991 miliar (3.195 debitur), dan Bali sebesar Rp809 miliar (2.072 debitur).
(ain)





























