Logo Bloomberg Technoz

“Dengan situasi di Timur Tengah yang terus berlarut-larut, saya yakin harga-harga—terutama barang-barang terkait energi—akan terus naik, dan kita akan melihat kenaikan lebih lanjut pada biaya pangan serta barang lainnya,” ujar Takeshi Minami, Chief Economist di Norinchukin Research Institute. “Jadi, inflasi kemungkinan besar akan tetap berada di atas 2% mulai musim gugur ini.”

Laporan terpisah menunjukkan bahwa perekonomian Jepang relatif tangguh pada bulan Juni, meskipun perang di Iran terus menimbulkan tantangan terhadap pengadaan energi dan rantai pasokan. Produksi industri naik 1,3% pada bulan Juni dari bulan sebelumnya, menurut kementerian industri pada hari Jumat. Output industri tersebut melonjak 4,2% dari tahun sebelumnya. Adapun penjualan eceran (retail sales) merangkak naik 0,5% dari tahun sebelumnya, namun terkoreksi 4,1% dari bulan sebelumnya, demikian kementerian melaporkan.

Secara keseluruhan, rangkaian data yang dirilis beberapa jam sebelum bank sentral mengambil keputusan kebijakan ini akan memperkuat alasan bagi otoritas monetar untuk tetap berada di jalur kenaikan suku bunga lanjutan. Pertanyaan utamanya kini berpusat pada seberapa cepat laju kenaikan tersebut akan dilakukan. BOJ diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan hari ini, setelah dewan Gubernur menaikkannya bulan lalu ke kisaran 1%—level tertinggi sejak tahun 1995.

Pelemahan mata uang yen turut menjadi faktor yang menjaga inflasi tetap tinggi melalui membengkaknya biaya impor pangan dan energi. Otoritas Jepang dilaporkan telah melakukan intervensi di pasar pada sesi perdagangan New York hari Kamis untuk memperkuat mata uang domestik, menurut seorang pelaku pasar yang mengetahui masalah tersebut. Intervensi ini sempat mendorong yen melonjak hingga 3,3% terhadap dolar AS, sebelum diperdagangkan di kisaran 160,15 per dolar pada Jumat pagi di Tokyo.

“Dampak dari biaya energi sangat signifikan, dan tampaknya kenaikan harga minyak mentah yang dipicu oleh situasi di Timur Tengah akhirnya mulai merembet ke perekonomian yang lebih luas,” ungkap Kohei Okazaki, Chief Market Economist di Nomura Securities. “Harga-harga melonjak cukup tinggi, tidak hanya untuk minyak mentah dan produk kimia, tetapi juga untuk barang-barang konsumsi rumah tangga.”

Harga makanan terus merangkak naik secara stabil, dengan biaya makanan olahan mencatatkan kenaikan 3,9% dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, harga beras yang turun 8,4% dari tahun sebelumnya, setelah sempat melonjak lebih dari 100% pada musim semi 2025. Perdana Menteri Sanae Takaichi pada hari Kamis menyatakan akan melanjutkan rencana penurunan pajak penjualan untuk makanan dan minuman ringan menjadi 1% selama dua tahun mulai April 2027.

Di antara komponen lainnya, konsumsi rumah tangga melonjak 5,3% secara tahunan, dan pertumbuhan harga sektor jasa—indikator kunci dari inflasi yang didorong oleh permintaan—mengalami percepatan tipis menjadi 1,2%.

Tingkat pengangguran bertahan stabil di angka 2,5% pada bulan Juni, menurut Kementerian Urusan Dalam Negeri. Rasio lowongan kerja terhadap pelamar merangkak naik menjadi 1,18 pada bulan Juni dari 1,17 di bulan sebelumnya, yang berarti terdapat 118 lowongan pekerjaan yang tersedia untuk setiap 100 pelamar kerja, demikian dilaporkan Kementerian Tenaga Kerja.

(bbn)

No more pages