Logo Bloomberg Technoz

“Pencapaian ini memperlihatkan perkembangan positif terhadap minat produk derivatif di Indonesia, yang berhasil tumbuh di saat tren global mengalami koreksi. Saat ini transaksi derivatif berkontribusi terhadap 36,5% dari pendapatan COIN di kuartal II-2026, memposisikan segmen ini sebagai kunci penting yang mendorong pendapatan Perusahaan ke depan,” jelas Ade. 

Untuk memitigasi dampak dinamika pasar, Manajemen COIN juga terus memperkuat posisi neraca keuangan. Perseroan membukukan aset lancar sebesar Rp366,6 miliar, yang menempatkan likuiditas dalam posisi solid, yakni mencapai 17 kali lipat dari total liabilitas. Kondisi tersebut memberikan bantalan pelindung yang kuat bagi kegiatan operasional dan kelanjutan inisiatif strategis Perseroan.

Lebih lanjut, Perseroan secara konsisten menjalankan efisiensi dan langkah deleveraging yang stabil. Pada akhir Juni 2026, COIN berhasil memangkas total liabilitas hingga 61% menjadi hanya Rp21,1 miliar, sehingga total utang Perusahaan tetap terjaga pada level yang sangat terkendali.

Pada kuartal II-2026, COIN juga melaporkan telah merealisasikan dana hasil Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) sebesar Rp49,99 miliar, atau setara dengan 24% dari total raupan dana sebesar Rp220,59 miliar. Seluruh dana yang telah direalisasikan tersebut difokuskan untuk penguatan sistem dan infrastruktur pada masing-masing Perusahaan Anak yakni PT Central Finansial X (CFX) selaku Bursa Aset Kripto pertama di Indonesia, dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC) selaku lembaga penyimpanan aset kripto yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

“Kami mengedepankan strategi yang prudent dan berlandaskan prinsip kehati-hatian dalam penggunaan dana hasil IPO, guna memastikan pemanfaatan dana dilakukan secara lebih efisien, tepat sasaran, serta mampu memberikan multiplier effect yang optimal dalam mendukung rencana strategis jangka panjang Perseroan dan Perusahaan Anak,” tutup Ade.

(tim)

No more pages