Logo Bloomberg Technoz

Setelah pertengahan Maret, nilai transaksi harian memang tidak lagi menyentuh Rp30 triliun, namun rata-rata sepanjang tahun masih relatif tinggi. Kondisi serupa, lanjut Irvan, kemungkinan juga terjadi pada GOTO sehingga secara rata-rata likuiditas saham tersebut masih memenuhi kriteria indeks.

"Menurut saya, sih, GOTO sama. Jadi dia masih cukup likuid di bulan-bulan sebelumnya sehingga masih cukup memenuhi syarat," ujarnya.

Sorotan terhadap likuiditas GOTO sebelumnya juga muncul dari penyedia indeks global MSCI. Dalam evaluasi Mei lalu, MSCI membekukan seluruh perubahan terkait saham GOTO setelah menilai perdagangan saham di level Rp50/saham berpotensi menimbulkan kendala replikasi indeks akibat rendahnya likuiditas. MSCI menyatakan akan kembali mengevaluasi kondisi tersebut pada peninjauan berikutnya.

Di tengah perhatian terhadap likuiditas sahamnya, GOTO juga mengubah rencana pengalihan saham tresuri hasil pembelian kembali saham atau buyback periode 2024-2025. Perseroan membatalkan penggunaan 32.186.417.803 saham Seri A untuk program kepemilikan saham karyawan, direksi, dan komisaris (ESOP/MSOP), kemudian mengalihkannya melalui mekanisme pengurangan modal.

GOTO menjelaskan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi pasar global dan domestik, dinamika pasar, kepentingan perseroan, hingga manfaat yang optimal bagi seluruh pemegang saham.

Adapun rencana pengurangan modal tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS). Sementara itu, sebanyak 7.593.660.600 saham Seri A hasil buyback periode 2025-2026 masih dalam kajian internal untuk menentukan rencana pengalihannya.

(dhf)

No more pages