Setelah itu, yield 15 tahun turun 0,8 bps menjadi 7,34%, 16 tahun naik tipis 0,1 bps ke 7,35%, 18 tahun naik 0,5 bps menjadi 7,40%, 20 tahun turun 0,5 bps menjadi 7,31%, 30 tahun turun 1,0 bps ke 7,35%, dan 40 tahun turun 0,9 bps menjadi 7,36%.
Fakta bahwa rupiah masih bertahan di atas level psikologis Rp18.000/US$ mengindikasikan minat beli obligasi saat ini kemungkinan lebih banyak datang dari investor domestik.
Di satu sisi, investor masih melihat imbal hasil SBN Indonesia cukup menarik sehingga aksi beli mulai muncul. Di sisi lain, pasar valas tetap berhati-hati karena dibayangi ketidakpastian global, mulai dari eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat yang mendorong kenaikan harga minyak hingga transisi kepemimpinan Bank Indonesia pascapengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, melandainya harga minyak mentah global memicu kembali meningkatnya minat investor terhadap obligasi negara maju.
Hal ini tercermin dari penurunan yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 4,2 bps menjadi 4,61%, disusul tenor 30 tahun yang turun 4,8 bps ke 5,09%, serta tenor 2 tahun yang turun 3,5 bps menjadi 4,29%. Sementara itu, yield Bund Jerman tenor 10 tahun juga turun 2,9 bps ke 3,10%, mencerminkan menguatnya permintaan terhadap aset safe haven.
"Kami memperkirakan yield SUN dan INDON 10 tahun masih konsolidasi di rentang masing-masing 7,3-7,4% dan 5,6-5,7% akibat faktor domestik," kata Lionel dalam catatannya.
(dsp/aji)




























