Salah satu penyebabnya, lima kelompok kerja (task force) yang dibentuk Warsh belum menyelesaikan kajiannya, revisi besar terhadap statistik inflasi inti PCE diperkirakan baru akan diumumkan pada September mendatang, sementara kondisi keuangan juga telah mengetat tanpa perlu tambahan kenaikan suku bunga.
Karenanya, Wong menilai jika The Fed bertindak terlalu cepat tanpa data yang lengkap, risikonya akan lebih besar daripada manfaatnya.
Selain itu, data ekonomi juga mendukung untuk sikap menunggu lebih lama. Setelah FOMC Juni, inflasi AS kembali melandai, pertumbuhan lapangan kerja mengecewakan, ekspektasi inflasi turun, dan kondisi keuangan semakin ketat.
Wong meyakini Jerome Powell akan mengambil langkah yang sama, jika masih menjabat posisi Ketua The Fed. Powell kemungkinan akan mempertahankan suku bunga karena data terbaru lebih cukup kuat untuk membenarkan pengetatan tambahan.
Di sisi lain, sebagian pelaku pasar berpendapat Warsh sebaiknya menaikkan suku bunga pada Juli agar tidak perlu mengambil keputusan yang sensitif menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Langkah tersebut juga dinilai dapat memperkuat kredibilitasnya sebagai pemimpin baru The Fed.
Namun, menurut Bloomberg Economics pertimbangan ekonomi jauh lebih penting daripada pertimbangan politik. Sebab, riset internal The Fed menunjukkan dampak kenaikan suku bunga terhadap aktivitas ekonomi muncul jauh lebih cepat dibandingkan dampaknya terhadap inflasi.
Dengan begitu, jika suku bunga dinaikkan sekarang, perlambatan ekonomi bisa mulai terasa menjelang pemilu, sementara manfaat terhadap inflasi baru muncul lebih belakangan.
(dsp)




























