Logo Bloomberg Technoz

“AS dan China telah saling menguji batas satu sama lain tanpa melampaui garis batas tersebut,” kata Wendy Cutler, mantan pejabat pelaksana wakil perwakilan perdagangan AS yang kini menjabat sebagai Senior Vice President di Asia Society Policy Institute. “Seiring makin dekatnya jadwal kunjungan Xi ke AS, kita harus mengantisipasi pola seperti ini akan terus berlanjut, bahkan dengan ritme yang lebih cepat.”

Penolakan keras dari Beijing muncul kurang dari dua bulan sebelum Xi diperkirakan melawat ke AS. Isu perdagangan dan investasi tetap menjadi inti dari hubungan kedua negara, sementara perselisihan yang mulai berkembang di bidang AI menambah sumber ketegangan baru yang makin sulit diprediksi.

Titik panas memicu ketegangan saat ini adalah Kimi K3, sebuah model AI baru besutan startup asal China, Moonshot AI. Para pejabat AS menuduh perusahaan tersebut menyalahgunakan output dari model-model terkemuka Amerika untuk membantu pengembangan K3, yang membuka peluang dijatuhkannya sanksi atau pembatasan ekspor. Beijing secara tegas menolak tuduhan tersebut.

“Peluncuran K3 dan perdebatan yang menyertainya terkait potensi respons AS terjadi lebih cepat dari persiapan KTT pada umumnya,” ujar Gerard DiPippo, Direktur Makro Global di Eurasia Group. “Beijing kemungkinan berharap setidaknya dapat menunda respons apa pun dari AS sampai kedua pemimpin dapat mendiskusikannya secara langsung.”

Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri China Ma Zhaoxu mengunjungi Washington dengan tugas yang mencakup penjajakan ke lembaga-lembaga AS mengenai cakupan dan potensi hasil dari dialog tersebut, dilaporkan oleh Bloomberg mengutip sumber yang memahami masalah tersebut.

Kementerian Perdagangan China pada hari Senin menolak tuduhan AS bahwa perusahaan-perusahaan China telah mencuri hak kekayaan intelektual melalui metode model distillation, serta mendesak Washington untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai kampanye untuk mencemarkan nama baik perusahaan China.

“Tindakan-tindakan ini tidak memiliki dasar faktual maupun dukungan hukum, serta mencerminkan standar ganda dalam praktiknya, yang merepresentasikan bentuk nyata dari hegemoni AI,” tegas kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan resmi. “China akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk secara tegas melindungi hak dan kepentingan sahnya dari tindakan apa pun yang secara substansial merugikan kepentingan China.”

Kementerian tersebut menyerukan kepada Washington untuk memperkuat dialog dengan Beijing mengenai AI dan meningkatkan tata kelola teknologi tersebut.

Di sektor perdagangan, peringatan China muncul saat Trump membangun kembali rezim tarifnya setelah Mahkamah Agung AS membatalkan beberapa tarif awal yang ia tetapkan. Kebijakan terbaru ini membawa tarif efektif AS untuk barang-barang China menjadi sekitar 22,2%, menurut data Bloomberg Economics.

Tambahan sebesar 7,5 poin persentase akan mengerek tarif efektif menjadi sekitar 30%, mendekati posisi saat kesepakatan dicapai di Malaysia pada Oktober lalu sebelum adanya keputusan Mahkamah Agung. Keterangan Kementerian Perdagangan mengindikasikan bahwa Beijing akan mentoleransi kenaikan hingga batas tersebut, tetapi tidak lebih dari itu.

Sikap menahan diri ini mencerminkan fokus Xi untuk menjaga stabilitas hubungan seiring upayanya menatap tahun 2027, di mana ia diperkirakan bakal kembali mengincar masa jabatan berikutnya, menurut Joerg Wuttke, mitra di Albright Stonebridge Group di Washington.

“Hal terpenting bagi Xi adalah stabilitas,” kata Wuttke. “Dia tidak ingin ada perang dagang dengan Amerika Serikat, dia menginginkan kedamaian dan ketenangan di lini tersebut.”

(bbn)

No more pages