Dolar Singapura menguat 0,15% menjadi 1,2886 per dolar AS menyusul pengumuman tersebut. Mata uang lokal Singapura ini menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia Tenggara terhadap dolar AS sejak pecahnya perang di Timur Tengah.
Para pembuat kebijakan telah menimbang dampak konflik AS-Iran terhadap negara tersebut, termasuk lonjakan harga minyak yang memicu inflasi serta risiko perlambatan ekonomi global.
Meskipun inflasi inti terbilang cukup terkendali dengan mencatatkan angka 1,6% bulan lalu, bank sentral memperkirakan inflasi kemungkinan bakal merangkak naik mulai Juli dan tetap berada di level tinggi. MAS mempertahankan proyeksi inflasi inti di kisaran 1,5%–2,5% untuk tahun ini. Risiko harga diperkirakan baru akan mereda secara signifikan mulai pertengahan 2027.
“Tekanan harga dari luar negeri diperkirakan masih akan berlanjut dan menerus ke harga konsumen domestik secara lebih luas pada periode mendatang,” ungkap MAS.
Dorongan dari pesatnya tren kecerdasan buatan (AI) diperkirakan terus memacu pertumbuhan ekonomi Singapura. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,7% pada kuartal lalu, menempatkannya pada jalur yang tepat untuk melampaui proyeksi penuh tahunan pemerintah sebesar 2%–4%.
“Kesenjangan output positif perekonomian kini diproyeksikan sedikit melebar pada tahun 2026, mencerminkan capaian pertumbuhan di atas tren pada paruh pertama tahun ini, serta ekspektasi bahwa PDB secara keseluruhan akan bertahan di level tinggi dalam jangka pendek,” papar MAS.
Sementara itu, ketidakpastian perdagangan global kembali meningkat seiring langkah Donald Trump yang kembali membangun kebijakan tarifnya. Singapura dikenai tarif sebesar 12,5% pada hari Jumat, meskipun pengiriman produk elektronik utama dan farmasi ke AS saat ini dikecualikan.
Bank sentral utama lainnya di Asia Tenggara memilih mengambil sikap memantau situasi.
Indonesia dan Malaysia mempertahankan suku bunga mereka tidak berubah bulan ini, meski para pembuat kebijakan di kedua negara telah menyuarakan kewaspadaan terkait memanasnya kembali tensi di Timur Tengah, potensi akselerasi inflasi global, serta kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan lebih cepat.
Dua kali pengetatan kebijakan moneter secara berturut-turut menunjukkan bahwa “MAS tetap sangat waspada dan tidak akan lengah terhadap tekanan harga dari barang impor,” kata Selena Ling, kepala ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC).
Barnabas Gan, kepala ekonom grup di RHB Bank Bhd, menambahkan bahwa mereka melihat risiko inflasi pada paruh kedua tahun ini bersumber dari tiga faktor utama: lonjakan harga minyak, potensi eskalasi El Nino yang dapat menghantam harga pangan, serta rekor kenaikan tarif listrik yang mulai berlaku Juli.
Di saat sebagian besar bank sentral menggunakan suku bunga acuan, Singapura menjaga stabilitas harga jangka menengah dengan mengelola nilai tukar mata uangnya terhadap keranjang mata uang mitra dagang utama—yang dikenal sebagai S$NEER—dalam batas target yang tidak dipublikasikan.
(bbn)






























