Galaxy Z Fold 8
Galaxy Z Fold 8 hadir dengan dimensi yang lebih pendek dan lebih lebar dibandingkan generasi sebelumnya.
Samsung menyebut perubahan desain ini didorong oleh pertimbangan ergonomi. Dalam sesi pengarahan media sebelum peluncuran, perusahaan mengatakan Fold 8 merupakan model Fold paling ringan yang pernah dibuat. Saat diuji langsung, layar luar berukuran 5,5 inci terasa lebih nyaman digunakan dengan satu tangan karena bagian atas layar lebih mudah dijangkau tanpa harus meregangkan ibu jari.
Keunggulan terbesar Fold 8 dibanding generasi sebelumnya terdapat pada pengalaman menikmati konten. Layar utama berukuran 7,6 inci kini menggunakan rasio aspek 4:3 sehingga video memenuhi area layar lebih luas. Pengalaman menonton pun menjadi lebih imersif dibandingkan ponsel konvensional seperti Galaxy S26 maupun iPhone 17 Pro Max.
Sebaliknya, layar luar menjadi tidak setinggi sebelumnya. Pengguna yang sering menikmati konten vertikal seperti TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts kemungkinan akan merasa ukuran tampilannya sedikit lebih kecil.
Fold 8 juga hanya dibekali dua kamera belakang, serupa dengan iPhone lipat Apple yang diperkirakan akan hadir. Kamera tersebut terdiri dari kamera utama 50 megapiksel dan kamera ultra-wide 50 megapiksel.
Galaxy Z Fold 8 Ultra
Bagi pengguna yang menginginkan kamera terbaik maupun pengalaman multitasking dua aplikasi berdampingan, Samsung tetap mempertahankan desain sebelumnya melalui Galaxy Z Fold 8 Ultra.
Perangkat ini dibanderol US$2.100 (Rp37,55 Juta) atau naik US$100 (Rp 1,8 juta) dibandingkan generasi sebelumnya. Meski secara teknis menjadi model tertinggi, perhatian publik tahun ini diperkirakan lebih banyak tertuju pada Fold 8 dengan desain barunya.
Setelah Galaxy Z Fold 7 mengalami peningkatan signifikan dalam hal bobot dan ketebalan, Samsung kali ini hanya melakukan penyempurnaan. Bezel luar dipangkas agar perangkat lebih mudah dibuka, sementara engselnya juga disetel ulang sehingga proses membuka layar terasa lebih nyaman. Meski demikian, Fold 8 Ultra tetap memberikan sensasi penutupan yang kokoh.
Samsung juga meningkatkan kemampuan pengisian daya. Fold 8 Ultra kini mendukung pengisian kabel 45 watt dan nirkabel 20 watt, meningkat dari masing-masing 25 watt dan 15 watt pada Fold 7. Kapasitas baterainya juga bertambah menjadi 5.000 mAh meskipun bodinya lebih tipis.
Perusahaan juga berupaya mengurangi lipatan (crease) pada layar. Samsung menggunakan lapisan baru berbahan paduan titanium di atas layar Fold 8 Ultra serta menambahkan pelat titanium tipis di bawah layar untuk membuat lipatan menjadi lebih samar. Peningkatan ini juga diterapkan pada Fold 8 reguler.
Meski demikian, lipatan layar masih terlihat dari sudut tertentu saat sesi uji coba, sehingga Samsung dinilai masih tertinggal dibandingkan sejumlah produsen China seperti Oppo. Namun, lipatan tersebut kini jauh lebih tidak mencolok.
"Kami ingin mengurangi visibilitas lipatan tanpa mengorbankan keunggulan lain dari perangkat ini," kata Executive Vice President Core Component Technology Samsung, Byung Duk Yang. Ia mengatakan tim rekayasa perangkat keras Samsung menghabiskan banyak waktu dan upaya untuk meminimalkan lipatan tersebut.
Seperti Fold 7, kedua model Fold 8 belum mendukung stylus S Pen. Samsung mengatakan keputusan ini diambil agar modul layar tetap setipis mungkin, meski perusahaan masih mengeksplorasi kemungkinan menghadirkan dukungan S Pen pada masa mendatang.
Galaxy Z Flip 8
Galaxy Z Flip 8 dibanderol US$100 (Rp1,8 juta) lebih mahal dibandingkan model tahun lalu. Perangkat ini kembali menggunakan prosesor Qualcomm setelah sempat beralih ke chip Exynos buatan Samsung pada generasi sebelumnya.
Flip 8 juga menjadi model Flip paling tipis yang pernah dibuat Samsung.
Samsung akhirnya meningkatkan kemampuan layar luar FlexWindow sehingga pengguna dapat membuka lebih banyak aplikasi tanpa harus membuka lipatan perangkat. Namun, selain pergantian chip dan sejumlah peningkatan perangkat lunak, Flip 8 menjadi model dengan perubahan paling sedikit dibandingkan perangkat lain dalam jajaran tahun ini.
Fitur AI Baru
Ketiga ponsel lipat terbaru Samsung dibekali berbagai fitur kecerdasan buatan (AI).
Samsung mengatakan kemampuan AI Google Gemini kini akan mendukung lebih dari 40 aplikasi sehingga dapat menjalankan tugas secara otomatis, seperti memesan tiket konser atas nama pengguna. Meski demikian, sistem tetap meminta konfirmasi akhir sebelum transaksi dilakukan. Pengguna juga dapat memantau setiap tahapan proses atau menghentikannya kapan saja.
Saat merekam video, fitur baru bernama My FanCam mampu melacak seseorang yang muncul dalam video lalu secara otomatis melakukan pemotongan gambar (cropping) ke rasio yang lebih sesuai untuk media sosial sambil mengikuti pergerakan subjek.
Pengguna juga dapat membuat widget khusus di layar utama hanya dengan memberikan perintah sederhana. Misalnya, widget yang menampilkan tingkat serbuk sari (pollen) setiap hari sehingga informasi tersebut dapat dilihat sekilas. Fitur ini sebelumnya juga diumumkan Google dan akan hadir pada perangkat Pixel.
Galaxy Watch Ultra 2 dan Galaxy Watch 9
Samsung juga memperbarui lini jam tangan pintarnya dengan Galaxy Watch Ultra 2 seharga US$700 (Rp12,52 juta) dan Galaxy Watch 9 seharga US$380 (Rp6,79 juta). Keduanya kini menggunakan prosesor Qualcomm.
Galaxy Watch Ultra 2 dibekali baterai 800 mAh atau sekitar 35% lebih besar dibandingkan generasi pertama. Layarnya memiliki tingkat kecerahan maksimum 5.000 nit sehingga tetap jelas terlihat di bawah sinar matahari langsung. Tali jamnya juga didesain ulang dengan lubang-lubang tambahan agar lebih nyaman dan cepat mengering saat berkeringat.
Galaxy Watch 9 yang menyasar pasar lebih luas juga memiliki baterai lebih besar dan tingkat kecerahan hingga 3.000 nit.
Samsung turut merombak aplikasi Health. Kedua jam tangan kini memiliki fitur Vitals yang menyatukan berbagai metrik kesehatan ke dalam satu tampilan ringkas yang lebih mudah dipahami.
Selain itu, terdapat fitur Heart Health Score yang dirancang memantau beban kerja sistem kardiovaskular sepanjang hari maupun saat berolahraga sehingga membantu pengguna mengambil keputusan yang lebih baik terkait gaya hidup mereka.
Kedua smartwatch juga mendukung gestur baru raise-and-talk untuk berinteraksi dengan Google Gemini. Pengguna cukup mengangkat pergelangan tangan dan berbicara tanpa perlu menekan tombol maupun memanggil asisten AI dengan suara terlebih dahulu.
Kacamata Pintar
Dalam ajang Unpacked, Samsung juga menampilkan secara publik kacamata pintarnya yang dikembangkan bersama Google, Warby Parker, dan Gentle Monster.
Perusahaan mengungkapkan bahwa perangkat tersebut diperkirakan mulai dipasarkan pada musim gugur tahun ini dalam berbagai pilihan desain. Samsung menyebut baterainya mampu bertahan hingga sembilan jam penggunaan aktif.
Generasi pertama kacamata pintar ini akan mengandalkan fitur audio, mirip dengan kacamata buatan Meta Platforms Inc., sehingga pengguna dapat berinteraksi secara hands-free dengan asisten AI Google Gemini. Kamera yang tertanam pada perangkat juga memungkinkan Gemini memahami lingkungan di sekitar pengguna.
Samsung belum mengizinkan media mencoba perangkat tersebut. Untuk saat ini, perusahaan lebih menyoroti daya tahannya dan menyatakan bahwa kacamata tersebut dirancang tahan terhadap air, keringat, tabir surya, serta penggunaan sehari-hari.
(bbn)






























