Logo Bloomberg Technoz

"Kami yakin bahwa energi berkelanjutan dan infrastruktur digital dan teknologi akan menjadi dua pilar pertumbuhan utama DSSA masa depan," imbuh Krisnan.

Sementara itu, kinerja bisnis infrastruktur digital dan teknologi perseroan tercatat positif pada kuartal I 2026. Segmen ini membukukan pendapatan usaha sebesar US$69,1 juta, melonjak 50% dibandingkan US$46,1 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Pertumbuhan itu didorong oleh penguatan kapabilitas konektivitas digital nasional setelah PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo) bergabung menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk (MoraRepublic).

Melalui entitas tersebut, DSSA kini memiliki jaringan fiber optic backbone dan access sepanjang lebih dari 166 ribu kilometer. Infrastruktur itu menjangkau lebih dari 12,7 juta homepass, melayani lebih dari 2 juta pelanggan ritel, serta lebih dari 17 ribu pelanggan bisnis di Indonesia.

Kapabilitas tersebut menjadi fondasi pengembangan konektivitas digital yang dimiliki perseroan.

Penguatan ekosistem digital juga dilakukan melalui pengembangan bisnis pusat data.

Melalui PT SMPlus Digital Investama (SM+), DSSA memperluas kapasitas data center nasional seiring meningkatnya kebutuhan layanan cloud, komputasi berkinerja tinggi, dan kecerdasan buatan (AI). 

Adapun, perseroan saat ini tengah menyelesaikan pembangunan flagship data center Jakarta SMX01 yang telah memasuki tahap topping off pada Mei 2026.

PT SMPlus Digital Investama (SM ) menyelesaikan tahap topping off pembangunan flagship data center Jakarta SMX01 pada Mei 2026. (Tim Komunikasi DSSA)

Data center Tier IV AI-ready dengan kapasitas lebih dari 18 MW tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV tahun ini.

Tak hanya itu, SM+ juga mengembangkan 25 Edge Data Center guna mendukung komputasi berlatensi rendah dan pemrosesan data secara real time bagi sektor telekomunikasi, bisnis, maupun AI.

Perseroan turut membentuk PT Brilian Teknologi Sejahtera melalui kemitraan strategis dengan iFLYTEK untuk menghadirkan solusi berbasis machine learning dan ekosistem AI bagi berbagai sektor industri.

Melalui integrasi konektivitas, pusat data, edge computing, dan AI tersebut, DSSA menargetkan mampu menghadirkan platform infrastruktur digital end-to-end di Indonesia.

"Karena itu, DSSA akan terus mengembangkan investasi pada aset strategis, memperkuat kapabilitas teknologi, dan memperkuat kemitraan jangka panjang untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Krisnan.

Bisnis Energi

Di luar bisnis digital, DSSA juga melanjutkan diversifikasi portofolio energi melalui tiga pilar utama. Pada bisnis pertambangan, perseroan menjalankan inisiatif green mining melalui elektrifikasi armada operasional guna meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi emisi karbon.

Di sektor panas bumi, pengembangan dilakukan melalui PT Daya Mas Bumi Sentosa yang dibentuk bersama PT FirstGen Geothermal Indonesia dengan potensi pengembangan hingga 440 MW di Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Jambi, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah.

Sementara itu, pada bisnis energi surya, DSSA mengoperasikan pabrik panel surya terintegrasi berkapasitas 1 GW di Kawasan Ekonomi Khusus Kendal sebagai bagian dari penguatan rantai pasok energi bersih.

Strategi yang mengintegrasikan bisnis energi berkelanjutan dengan infrastruktur digital tersebut turut memperkuat posisi DSSA di tingkat regional.

Pada 2026, perseroan menempati peringkat ke-124 dalam Fortune Southeast Asia 500 sebagai salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara.

Menurut perseroan, pencapaian tersebut mencerminkan keberhasilan membangun model bisnis yang tangguh dan terdiversifikasi dengan dua mesin pertumbuhan utama, yakni energi berkelanjutan serta infrastruktur digital dan teknologi.

Secara konsolidasian, DSSA membukukan pendapatan usaha sebesar US$693,2 juta pada kuartal I-2026 dengan laba periode berjalan mencapai US$118,5 juta.

Hingga 31 Maret 2026, total aset perseroan tercatat sebesar US$4,6 miliar dengan posisi ekuitas mencapai US$2,4 miliar.

Ke depan, perseroan menyatakan akan terus mengembangkan ekosistem yang mengintegrasikan energi berkelanjutan dengan infrastruktur digital dan teknologi melalui investasi pada energi rendah karbon, konektivitas digital, pusat data, komputasi berbasis AI, serta teknologi masa depan lainnya guna mendukung percepatan transformasi digital dan transisi energi di Indonesia.

(cpa/naw)

No more pages