Dengan memperbesar tenor panjang, BI sepertinya berharap dapat mengurangi risiko dana kembali ke pasar dalam waktu singkat, yang berpotensi memicu tekanan terhadap likuiditas maupun nilai tukar.
Sebagai catatan, pergerakan rupiah hari ini melemah sejalan dengan laju mata uang Asia yang tertekan penguatan dolar AS. Namun, pergerakan rupiah tak sampai menembus level psikologis Rp18.000/US$ seperti beberapa pekan lalu.
Dalam penutupan perdagangan hari ini, rupiah melemah 0,48% di Rp17.968/US$. Padahal rupiah juga mengalami beban ganda. Selain penguatan dolar AS, pergerakan rupiah terbebani oleh rilisnya sejumlah data ekonomi penting yang secara kinerja belum cukup menopang prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Lebih lanjut, lelang SRBI hari ini terbilang cukup kompetitif yang tercermin dari turunnya tingkat imbal hasil (yield) yang dimenangkan di seluruh tenor.
Yield tenor 6 bulan turun menjadi 7,3% dari 7,35%, tenor 9 bulan turun ke 7,44% dari 7,54%, sedangkan tenor 12 bulan turun tipis menjadi 7,69% dari 7,7%.
Meski tercatat turun, sebenarnya SRBI menawarkan yield lebih tinggi daripada Surat Utang Negara (SUN), yang pada tenor 1 tahun hanya berada di 7,29%.
(dsp/aji)




























