Di sisi lain, pemerintah memang diuntungkan secara makroekonomi. Kebijakan B50 berpotensi menekan angka impor solar secara signifikan, yang pada kelanjutannya akan menghemat devisa negara dan memperbaiki rapor neraca perdagangan Indonesia.
Namun, Yusuf mengingatkan dampak positif ini tidak serta-merta dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan pelaku usaha di sektor kelapa sawit.
"Manfaat ekonomi program ini juga masih lebih banyak terkonsentrasi pada perusahaan besar yang memiliki rantai usaha dari hulu hingga hilir. Mereka memiliki kapasitas produksi, infrastruktur, dan akses pasar yang sudah siap sehingga dapat merespons kebijakan dengan cepat," jelas Yusuf.
Sementara itu, petani sawit mandiri memperoleh manfaat lebih kecil karena harus menunggu adanya kenaikan harga tandan buah segar (TBS) yang bergantung pada mekanisme pembentukan harga di pasar serta posisi tawar mereka dalam rantai pasok.
“Karena itu, nilai tambah yang tercipta masih lebih banyak dinikmati oleh pelaku usaha berskala besar,” ungkapnya.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menyatakan kesiapan 126 terminal bahan bakar minyak (BBM) untuk dapat menyalurkan B50 mulai 1 Juli 2026.
“Seluruh terminal BBM Pertamina Patra Niaga yang berjumlah 126 unit telah siap mendistribusikan B50 mulai 1 Juli 2026,” tutur Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga (PPN) Roberth MV Dumatubun saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).
Nantinya, B50 akan didistribusikan ke seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan agen penyalur minyak solar (APMS) milik Pertamina melalui produk Biosolar dan Dexlite secara bertahap sesuai dengan arahan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Roberth mengatakan, sebagai awalan, perseroan akan mendistribusikan B50 sebanyak 37,92 juta liter B50 pada 1 Juli 2026.
Dia juga menambahkan ke depannya, PT PPN akan menyalurkan B50 hingga mencapai 87,27 juta liter per hari untuk skala nasional.
"PT PPN akan menyiapkan B50 sejumlah 87,27 juta liter per hari untuk disalurkan secara nasional," ujar Roberth.
Adapun, Juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyatakan BBM jenis diesel dengan campuran fatty acid methyl esther (FAME) 50% itu bakal tersedia secara bertahap mulai 1 Juli 2026, nantinya stok produk B40 juga masih dapat dipasarkan selama masa transisi selama tiga bulan.
Ihwal jadwal peresmian program B50, Anggia menyatakan bakal dilakukan sesuai ketersediaan jadwal Prabowo. Nantinya, peresmian tersebut bakal dilakukan pada salah satu SPBU.
“B50 itu peresmiannya memang rencananya pada awal Juli, tetapi kayaknya enggak tanggal 1 nanti menunggu jadwal Presiden, karena kan diresmikan langsung oleh Presiden tentunya. Rencananya akan di-launching di salah satu SPBU, untuk langsung diimplementasikan nanti serentakkan di seluruh SPBU ada beberapa yang akan diresmikan,” kata Anggia kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (30/6/2026).
Anggia juga mengklaim fasilitas produksi biodiesel hingga penyaluran di sektor hilir telah memadai, sehingga mandatori B50 dapat diimplementasikan mulai 1 Juli 2026.
“Sudah, sudah disiapkan. Dari hulu ke hilir, termasuk dari BBN-nya [bahan bakar nabati], kemudian untuk blending-nya, semua sudah ready. Termasuk untuk distribusinya juga sudah siap, sehingga kebijakan serentak pada Juli, bisa langsung diimplementasikan sesuai dengan arahan Presiden,” tegasnya.
(smr/wdh)





























