Logo Bloomberg Technoz

Makanya kalau mobil-mobil tua, teknologi 70-an, 80-an, dia jangan 'minum' B50. Kenapa? Teknologinya memang tidak kompatibel. Pada masa itu, orang belum berpikir untuk memanfaatkan bioenergi,” kata Ali ketika dihubungi, Rabu (1/7/2026).

Mandatori Berlaku Juli, Ini 24 Parameter Mutu Biodiesel B50 (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Sementara itu, mobil dan alat berat keluaran baru diprediksi tidak bakal mengalami permasalahan ketika menggunakan B50.

Ali meyakini pabrikan otomotif sudah menyesuaikan spesifikasi suku cadang untuk menggunakan BBN.

“Kalau mobil-mobil baru, enggak ada masalah. Semua sudah disesuaikan, seal-nya sudah disesuaikan,” paparnya.

Penurunan Kualitas

Terpisah, Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan jika biodiesel B50 tak disimpan secara baik, kualitasnya bakal menurun dan sangat berdampak negatif bagi mesin.

Dia menjelaskan kondisi tersebut bisa menyebabkan terbentuknya sludge atau endapan yang menyumbat filter bahan bakar dan deposit di injektor akibat kontaminasi air serta kotoran.

Yannes mengungkapkan kondisi tersebut dapat membuat pembakaran menjadi tidak sempurna, tenaga mesin turun, konsumsi bahan bakar meningkat, dan dalam kondisi ekstrem bisa menyebabkan mesin mogok.

Tidak hanya itu, B50 dengan kualitas buruk memiliki sifat asam yang dapat teroksidasi sehingga mempercepat korosi pada komponen logam.

Lalu, sifat pelarut FAME juga bisa memengaruhi seal karet atau elastomer di sistem bahan bakar yang menyebabkan swelling hingga cracking.

“Mesin modern [common rail] biasanya lebih sensitif dibandingkan dengan mesin lama, meski dampak jangka panjang masih terus dievaluasi melalui uji coba saat ini,” kata Yannes ketika dihubungi, medio April.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyatakan uji jalan atau road test penggunaan bahan bakar biodiesel campuran 50% FAME telah selesai pada akhir Mei 2026.

Adapun, total dari road test yang telah dilakukan adalah sejauh 50.000 kilometer (km) yang diterapkan pada berbagai mesin dan komponen kendaraan jarak jauh.

“[Road test] 50.000 km selesai minggu ini ya. [Tes] di kapal sudah selesai, [mesin] tambang selesai, otomotif, Alsintan [alat dan mesin pertanian) selesai,” ungkap Eniya saat ditemui di sela-sela IPA Convex 2026 di ICE BSD, Kamis (21/5/2026).

“[Uji coba] yang belum selesai adalah kereta sama genset. Genset itu nanti sampai Oktober,” tambahnya.

Eniya menambahkan, meski terdapat dua sektor lagi yang belum menyelesaikan 100% uji coba, hal ini tidak mengubah target mandatori B50 pada semester kedua tahun ini atau tepatnya mulai 1 Juli 2026.

“Iya, per 1 Juli. Gini, walaupun dua [sektor] itu tertinggal, tetapi kan mostly hasil uji sampai 50.000 km itu melampaui spesifikasi yang ada. Maksudnya gini, kalau dipasang filter, 10.000 km sudah harus ganti, ternyata dia sampai 30.000 km enggak ganti [filter], dan ini bagus,” jelasnya.

Sekadar informasi, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menyatakan kesiapan 126 terminal BBM untuk dapat menyalurkan biodiesel B50 mulai hari ini, 1 Juli 2026.

“Seluruh terminal BBM Pertamina Patra Niaga yang berjumlah 126 unit telah siap mendistribusikan B50 mulai 1 Juli 2026,” tutur Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga (PPN) Roberth MV Dumatubun saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).

Nantinya, B50 akan didistribusikan ke seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan agen penyalur minyak solar (APMS) milik Pertamina melalui produk Biosolar dan Dexlite secara bertahap sesuai dengan arahan Kementerian ESDM.

Roberth mengatakan, sebagai awalan, perseroan akan mendistribusikan B50 sebanyak 37,92 juta liter B50 pada 1 Juli 2026.

Dia juga menambahkan ke depannya, PT PPN akan menyalurkan B50 hingga mencapai 87,27 juta liter per hari untuk skala nasional.

(azr/wdh)

No more pages