Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp15,33 triliun dari sejumlah 22,72 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi menyentuh 1,62 juta kali diperjualbelikan.
Tercatat hanya ada penguatan 136 saham, dan sebanyak–banyaknya 564 saham terjadi pelemahan. Sisanya 99 saham stagnan.
Penyebab IHSG Melemah
Saham–saham barang baku utamanya menjadi pemberat IHSG dengan tertekan mencapai 5,53%, begitu juga saham energi, dan saham konsumen non primer yang masing–masing turun 3,51% dan 2,79%, disusul oleh pelemahan pada saham properti dengan melemah 2,68%.
Terungkap, berdasarkan data Bloomberg, melemahnya IHSG merupakan efek langsung dari tertekannya sejumlah saham big caps yang memiliki bobot besar terhadap Indeks.
Saham–saham big caps pemberat IHSG hingga menempati jajaran top losers.
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menekan 35,32 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menekan 17,34 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menekan 9,91 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) menekan 7,62 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menekan 7,08 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menekan 6,78 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menekan 6,29 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menekan 6,11 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menekan 5,54 poin
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menekan 5,44 poin
Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat IHSG, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang turun 9,65%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) amblas 7,79%, dan juga saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 7,02%.
Senada dengan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) drop 6,48%, saham PT Bumi Resources bk (BUMI) melemah 6,38%, dengan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terpeleset 6,36% hingga menjadi pemberat IHSG.
Sebagian Bursa Asia justru berhasil melenggang di zona hijau. TW Weighted Index (Taiwan), Shenzhen Comp. (China), CSI 300 (China), KOSPI (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Jepang), SETI (Thailand), Shanghai Composite (China), TOPIX (Jepang), dan Ho Chi Minh Stock (Vietnam), yang berhasil memimpin penguatan Bursa Saham Asia.
Rupiah Melemah (lagi)
Depresiasi rupiah menjadi sentimen yang amat berat bagi IHSG. Menutup perdagangan hari ini, rupiah berada di posisi Rp17.882/US$. Mata uang Tanah Air melemah 0,19% pada Selasa (30/6/2026).
Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp17.908/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday. Mendekati level psikologis krusialnya di posisi Rp18.000/US$, berdasarkan data Bloomberg.
Sejumlah tekanan masih membayangi pergerakan rupiah, hal ini menunjukkan tekanan eksternal terhadap aset domestik belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Investor sepertinya masih mempertimbangkan sentimen yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter, terutama menjelang rilis data inflasi RI, serta perkembangan ekspektasi kebijakan suku bunga global.
Besok, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis capaian inflasi edisi Juni. Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, laju inflasi diestimasikan akan terakselerasi dengan median proyeksi 3,1% secara tahunan.
“Pergerakan rupiah dan sentimen global diperkirakan masih menjadi faktor yang menentukan arah pasar dalam jangka pendek,” terang BRI Danareksa Sekuritas dalam catatan terbarunya siang hari ini, Selasa.
Sebagai catatan, rupiah telah melemah sekitar 6,67% sepanjang tahun ini. Sedang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 34,74%, terlebih lagi penurunan hari ini menyeret return bulanan IHSG negatif selama enam bulan berturut–turut, yang belum pernah terjadi sebelumnya selama 10 tahun perdagangan saham, menyitir Phintraco Sekuritas.
“Secara teknikal, histogram positif MACD mengecil dan berpotensi terjadi death cross. Stochastic RSI berada di area pivot dan masih melanjutkan ke arah bawah. Sehingga IHSG diperkirakan berpotensi akan menguji level 5.500,” papar Phintraco.
(fad)

























