Logo Bloomberg Technoz

1. Pakistan

Pakistan membeli satu kali pengiriman LNG untuk dikirim dalam waktu dekat pekan ini. Perusahaan milik negara, Pakistan LNG Ltd membeli kargo tersebut untuk pengiriman pada 30 Juni hingga 4 Juli dari BP Plc dengan harga US$16,74 per juta British thermal units (Btu) pada Senin.

Sebagai perbandingan, harga spot untuk Asia diperdagangkan di kisaran US$15-an per juta Btu pada hari itu, kata para pedagang tersebut.

Pembelian yang dilakukan dengan sangat cepat ini menunjukkan pembeli masih tidak dapat mengandalkan pengiriman yang melintasi Selat Hormuz, jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan LNG dunia.

Pakistan telah berjuang mengatasi kekurangan energi sejak konflik AS-Iran mengganggu pasokan dari pemasok utamanya, Qatar, sehingga terpaksa membeli bahan bakar dengan harga lebih mahal dari pasar spot selama beberapa bulan terakhir.

2. Eni dan XRG

Raksasa energi Italia, Eni SpA, dan unit investasi Abu Dhabi National Oil Co sepakat membeli saham dalam proyek produksi dan ekspor LNG di Argentina.

Menurut pernyataan dari kedua perusahaan pada Senin, XRG dan Eni masing-masing akan mengakuisisi 32% saham di tiga blok hulu di cekungan Vaca Muerta di negara Amerika Selatan tersebut.  YPF SA dari Argentina akan mempertahankan 36% aset tersebut, yang akan menjadi bagian dari pengembangan LNG terintegrasi.

Kesepakatan ini terjadi saat XRG berupaya membangun bisnis global di bidang gas, bahan kimia, serta pasokan dan perdagangan energi lainnya guna mendiversifikasi sumber pendapatan dan pasokannya serta memasuki pasar-pasar baru.

Abu Dhabi telah mengalokasikan US$150 miliar untuk investasi selama lima tahun, terutama untuk memperluas kapasitas produksi minyak dan gas, meski konflik baru-baru ini di Teluk Persia telah mengganggu pasokan dari kawasan kaya energi tersebut.

Eni telah menemukan cadangan gas mulai dari Laut Mediterania hingga pesisir Afrika seiring pengembangan operasinya di bidang LNG untuk mengekspor bahan bakar tersebut ke seluruh dunia. Perusahaan asal Italia ini juga sedang mengembangkan ladang gas lepas pantai di Abu Dhabi.

3. India

India berencana membangun cadangan strategis minyak mentah, gas petroleum cair (LPG), dan LNG yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan domestik selama satu bulan.

Kementerian Perminyakan telah membentuk sebuah komite untuk mempelajari rinciannya, termasuk lokasi potensial, model operasi, dan pembagian antara penyimpanan di atas tanah dan di bawah tanah, menurut sumber, yang meminta namanya tidak disebutkan karena pembahasan tersebut belum dipublikasikan.

Kementerian Perminyakan India belum menanggapi pertanyaan mengenai rencana tersebut.

New Delhi saat ini memiliki cadangan minyak mentah strategis sekitar 39 juta barel, cukup untuk menutupi sekitar delapan hari impor. Jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari cadangan yang dimiliki negara konsumen energi raksasa lainnya di Asia—China—meski persediaan yang dimiliki perusahaan penyulingan dan pengecer bahan bakar secara keseluruhan dapat memenuhi lebih dari 70 hari kebutuhan minyak. 

Namun, cadangan LPG dan LNG nyaris tidak ada, karena kesulitan dalam penyimpanannya—LPG disimpan dalam bentuk cair di bawah tekanan, sedangkan LNG harus disimpan pada suhu yang sangat dingin. Keduanya memerlukan protokol keamanan yang ketat untuk menghindari kebocoran atau ledakan.

Kapasitas penyimpanan LPG jangka panjang India hanya sekitar 140.000 ton, terutama di gua-gua batuan bawah tanah di pantai timur dan baratnya, dan cukup untuk memenuhi konsumsi nasional selama kurang lebih dua hari, menurut lembaga think tank Takshashila Institution yang berbasis di Bengaluru.

Kementerian Perminyakan telah meminta perusahaan penyulingan minyak milik negara untuk berupaya meningkatkan cadangan LPG guna keperluan darurat, kata para sumber tersebut. 

Untuk gas, situasinya bahkan lebih menantang, karena saat ini tidak ada cadangan strategis. Tahun lalu, pemerintah mengusulkan rancangan kebijakan yang akan mendorong operator terminal untuk mempertahankan kapasitas penyimpanan LNG setara dengan 10% lebih tinggi dari kebutuhan operasional normal mereka—volume yang akan disita oleh pemerintah sesuai kebutuhan.

Para importir LNG seperti Petronet LNG Ltd sudah mulai menambah tangki penyimpanan baru. 

Pada puncak krisis Iran, India terpaksa memberlakukan pembatasan pasokan solar, LPG, dan gas, serta menghubungi pembeli lain di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan—yang memiliki cadangan LPG dan LNG—untuk meminta bantuan mengatasi kekurangan pasokan.

4. Thailand

Thailan sedang mempertimbangkan investasi dalam proyek-proyek ekspor LNG AS, menurut sumber yang meminta namanya tidak disebutkan karena informasi ini bersifat rahasia. Negara pengimpor bahan bakar asal Asia Tenggara tersebut berupaya memperkuat kebutuhan keamanan energinya.

Perusahaan milik negara PTT PCL sedang melakukan pembicaraan dengan para pengembang terkait kepemilikan saham dan pasokan jangka panjang, termasuk dengan Woodside Energy Group Ltd mengenai fasilitas LNG-nya di Louisiana. Pembicaraan tersebut masih dalam tahap awal.

AS hanyalah salah satu dari sejumlah negara tempat PTT mencari peluang untuk memperluas portofolio LNG-nya, demikian pernyataan perusahaan kepada Bloomberg News, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Woodside menolak memberikan komentar.

Beberapa importir besar di Asia, termasuk Thailand, mengalami gangguan pasokan LNG akibat perang di Iran, yang telah menghentikan pengiriman dari Timur Tengah dan mengerek harga. Negara di Asia Tenggara ini memiliki kontrak jangka panjang dengan Qatar, tetapi terpaksa membeli kargo spot yang mahal untuk memenuhi kebutuhan.

Tujuan proyek yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan ini adalah untuk memulai pengiriman pada tahun 2029.

Di sisi lain, pemerintah Thailand berencana mempercepat investasi dalam infrastruktur impor LNG, karena pembangunan pusat data baru diperkirakan akan meningkatkan permintaan listrik secara signifikan, demikian disampaikan Sekretaris Tetap Kementerian Energi Prasert Sinsukprasert kepada wartawan awal bulan ini.

(ros)

No more pages