Logo Bloomberg Technoz

Peringatan merah akibat suhu panas ekstrem telah dikeluarkan di Hungaria, Polandia, Rumania, Serbia, Kroasia, Slovakia, serta Bosnia dan Herzegovina. Otoritas setempat mengimbau warga untuk tetap berada di dalam ruangan selama jam-jam terpanas pada siang hari.

Otoritas Hungaria menerbitkan daftar lebih dari 2.000 pusat pendinginan berpendingin udara di seluruh negeri bagi warga yang tidak dapat menghindari panas di rumah mereka.

Menteri Energi Hungaria juga memberikan pengecualian sementara kepada PLTN Paks dari ketentuan mengenai suhu air pendingin yang dialirkan ke hilir, guna mencegah penurunan tajam produksi listrik lebih lanjut di tengah gelombang panas, kata operator pembangkit tersebut.

Jerman hingga Kroasia juga mencatat peningkatan suhu tertinggi. Badan Meteorologi Kroasia bahkan mengeluarkan peringatan merah pada Senin (29/6) untuk sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Zagreb, serta destinasi wisata Split dan Dubrovnik.

Puluhan petugas pemadam kebakaran, dibantu empat pesawat, berupaya memadamkan kebakaran hutan yang melanda hutan pinus di Pulau Vis di Laut Adriatik, sekitar 55 kilometer di barat daya Split.

Analisis para Ilmuwan

Analisis terbaru dari para ilmuwan di konsorsium World Weather Attribution (WWA) menunjukkan betapa cepatnya panas ekstrem semakin memburuk seiring terus bertambahnya polusi karbon di atmosfer.

Bahkan pada 2003, gelombang panas seperti yang saat ini melanda Eropa diperkirakan akan lebih rendah 2 derajat Celsius karena tingkat pemanasan global saat itu belum setinggi sekarang. Sementara pada 1976, tahun yang juga dikenal dengan gelombang panas besar, suhu diperkirakan akan 3,5 derajat Celsius lebih rendah.

Suhu malam yang sangat tinggi, yang saat ini mengganggu kualitas tidur banyak orang, kini sekitar 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan pada 2003. Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim, kondisi gelombang panas di masa depan akan menjadi jauh lebih ekstrem, sehingga musim panas tahun ini bahkan bisa terlihat relatif sejuk jika dibandingkan dengan yang akan datang.

"Ini merupakan gelombang panas paling parah dan paling luas yang pernah melanda kawasan Eropa sebesar ini," kata Dr. Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem di Imperial College London yang juga tergabung dalam tim World Weather Attribution (WWA).

"Kami menemukan bahwa dalam 50 tahun terakhir, ketika suhu Bumi telah meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius, kemungkinan terjadinya gelombang panas seperti ini telah berubah secara drastis. Peristiwa seperti ini tidak mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa adanya perubahan iklim. Namun, apakah kita akan menganggap musim panas seperti ini sebagai musim yang sejuk di masa mendatang? Jawabannya, ya," ujarnya.

Menurut Keeping, banyak ibu kota di Eropa tidak hanya mengalami periode tiga hari terpanas yang pernah tercatat pada bulan Juni, tetapi juga periode tiga hari terpanas sepanjang tahun. Sedikitnya 100 juta orang di Eropa diperkirakan menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius pada Kamis.

Para ilmuwan menggunakan suhu bola basah global (wet bulb globe temperature/WBGT) untuk menilai dampak tambahan dari tingkat kelembapan yang tinggi. "Indikator ini memperhitungkan kemampuan tubuh manusia untuk mendinginkan diri. Dengan kondisi terburuk yang pernah dialami di 45% kota berpenduduk lebih dari 50.000 orang, dampak gelombang panas ini terhadap kesehatan kemungkinan akan sangat besar," kata Keeping.

"Kecepatan perubahan yang terjadi sungguh mencengangkan."

Menanggapi analisis WWA tersebut, Kepala Iklim PBB Simon Stiell mengatakan, "Perubahan iklim kini semakin tak terkendali akibat ketergantungan dunia pada pembakaran batu bara, minyak, dan gas. Namun, solusinya juga sudah sangat jelas: mempercepat transisi ke energi bersih—yang kini jauh lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil—serta melindungi hutan dan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim."

Tim WWA menggunakan data suhu hasil pengamatan serta prakiraan suhu yang dinilai andal untuk menganalisis periode tiga hari terpanas di wilayah luas Eropa Barat yang berada di bawah pengaruh "kubah panas" (heat dome). Dengan menggunakan metode yang telah melalui telaah sejawat (peer review), mereka menyimpulkan secara tegas bahwa perubahan iklim merupakan faktor utama yang mendorong tingkat keparahan gelombang panas tersebut.

Ribuan Orang Meninggal Dunia

Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian berlebih minggu ini karena gelombang panas "luar biasa" yang terus membakar Eropa.

Suhu rekor mendorong angka kematian harian di atas 1.400 pada Kamis dan Jumat, naik dari 900 hingga 1.000 per hari pada April dan Mei, kata Santé Publique France dalam pernyataan pada Minggu.

Angka-angka tersebut kemungkinan akan direvisi lebih tinggi karena didasarkan pada sertifikat digital, yang biasanya mencakup sekitar 60% dari total kematian di seluruh negeri, kata otoritas kesehatan masyarakat tersebut.

Dari jumlah kematian yang tercatat sejak Rabu, 85% di antaranya adalah orang berusia 65 tahun ke atas, demikian menurut pernyataan tersebut. 

(spt)

No more pages