Berdasarkan wilayah, Pulau Jawa menjadi penyumbang laporan terbanyak dengan 404.502 laporan, jauh di atas Kalimantan 32.779 laporan, Sumatra sebanyak 32.456 laporan, Sulawesi sebanyak 22.521 laporan, Bali dan Nusa Tenggara sebanyak 21.323 laporan, serta Maluku dan Papua sebanyak 5.046 laporan.
Adapun modus penipuan yang paling banyak dilaporkan adalah penipuan transaksi belanja dengan 77.740 laporan, diikuti impersonation atau fake call sebanyak 47.269 laporan, penipuan investasi sebanyak 26.649 laporan, penipuan kerja sebanyak 23.910 laporan, serta penipuan melalui media sosial sebanyak 20.469 laporan.
Pegawai Swasta Banyak Jadi Korban Investasi Ilegal
Hudiyanto mengungkap, pegawai swasta menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban penipuan investasi ilegal. Kondisi tersebut, kata Hudiyanto, dipengaruhi keinginan memperoleh tambahan penghasilan secara cepat tanpa memahami skema investasi yang ditawarkan.
Hingga 31 Mei 2026, total kerugian akibat investasi illegal sejak 2017 mencapai Rp142,22 triliun. Dari sisi pekerjaan pelapor, pegawai swasta berada di posisi pertama dengan 612 pelapor, wiraswasta sebanyak 434 pelapor, ibu rumah tangga 407 pelapor, tidak bekerja 378 pelapor, dan pegawai negeri 134 pelapor.
Ia melanjutkan, banyak pegawai swasta berharap dapat meningkatkan pendapatan di luar gaji bulanan melalui investasi tersebut. Sayangnya, harapan itu kerap dimanfaatkan pelaku dengan menawarkan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat yang sebenarnya merupakan skema penipuan, seperti money game maupun skema Ponzi.
“Umumnya, ketika seseorang ingin mendapatkan keuntungan besar dalam waktu yang cepat, mereka berharap dengan gaji yang dimiliki bisa memperoleh tambahan uang dari investasi,” tambahnya.
Menurutnya, rendahnya kehati-hatian dalam mengejar keuntungan instan membuat pegawai swasta menjadi sasaran empuk pelaku investasi ilegal. Janji keuntungan tinggi tanpa risiko sering kali mengalahkan pertimbangan rasional calon korban
Dirinya juga menegaskan, tingkat pendidikan tidak menjamin seseorang terbebas dari jebakan investasi ilegal. Pasalnya, korban tidak hanya berasal dari masyarakat dengan literasi keuangan rendah, tetapi juga dengan pendidikan tinggi.
“Apakah pendidikan tinggi membuat seseorang tidak akan menjadi korban? Tidak juga. Ada aspek kelemahan manusia yang sering dimanfaatkan pelaku, yaitu greedy atau keserakahan. Ketika dijanjikan keuntungan besar dalam waktu yang cepat, banyak orang akhirnya tergiur,” tegasnya.
(mef/del)
































