Sementara saham–saham LQ45 yang berisikan saham unggulan turut tercatat di zona merah, dengan penurunan 10,71 poin (1,84%) di posisi 573.
Berdasarkan data Bloomberg, melemahnya IHSG merupakan efek langsung dari dropnya sejumlah saham big caps. Hingga diperberat oleh tertekannya harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang amblas 4%, dan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang sama turun 4%. Hingga saham PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) turun 6%.
Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Senin (29/6/2026)
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menekan 23,55 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menekan 7,34 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menekan 5,56 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menekan 4,73 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menekan 3,93 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menekan 3,39 poin
- PT Bhakti Multi Artha Tbk (BHAT) menekan 2,4 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menekan 2,25 poin
- PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) menekan 2,23 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) menekan 2 poin
Adapun saham–saham unggulan LQ45 lainnya juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) turun 8,06%, saham PT XLSmart Tbk (EXCL) melemah 4,04%, dan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) kehilangan 2,74%.
Senada, tren negatif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) drop 2,67%, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melemah 2,51%, bersama dengan saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) turun 2,36%.
Untuk pasar saham Asia melaju bervariasi pada hari ini. KOSDAQ (Korea Selatan), SETI (Thailand), Hang Seng (Hong Kong), CSI 300 (China), Shanghai Composite (China), PSEi (Filipina), TW Weighted Index (Taiwan), TOPIX (Jepang), Straits Times (Singapura), dan NIKKEI 225 (Jepang), yang berhasil ditutup di zona hijau dengan penguatan masing–masing 8,13%, 2,31%, 1,57%, 1,21%, 1,16%, 1,01%, 0,96%, 0,47%, 0,33%, dan 0,15%.
Sementara itu di sisi berseberangan, Ho Chi Minh Stock (Vietnam), SENSEX (India), KOSPI (Korea Selatan), Shenzhen Comp. (China), dan KLCI (Malaysia), justru terpeleset di zona merah bersama IHSG, dengan penurunan masing–masing 0,9%, 0,37%, 0,2%, 0,12%, dan 0,11%.
Transaksi yang cenderung sepi, terbilang ‘hanya’ Rp9,1 triliun rasanya merupakan reaksi wait–and–see pasar terhadap premi risiko harga minyak yang masih atraktif dan belum sepenuhnya hilang seiring proses normalisasi Selat Hormuz yang masih menyisakan risiko implementasi.
Sikap kehati–hatian pasar juga termasuk di dalamnya keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, tahapan pencabutan sanksi, hingga keberlanjutan gencatan senjata di Lebanon, melansir Panin Sekuritas.
Terlebih lagi, sejumlah rilis data dari Amerika Serikat (AS) kembali mengafirmasi sikap hawkish bias Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), seiringan dengan kenaikan inflasi PCE AS.
Di saat yang sama, Initial Jobless Claims turun menjadi 215K (dari yang sebelumnya: 227K; dengan consensus: 225K), mengindikasikan pasar tenaga kerja yang masih solid, seperti yang disebutkan dalam riset economist Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan.
(fad/naw)


























