Begitu juga dengan saham–saham unggulan LQ45 juga tercatat dalam tren negatif. Adapun saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpeleset mencapai 5,39%, disusul oleh saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) amblas 5,11%, dan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) drop 4,67%.
Rupiah Melemah Terdalam di Asia
Rupiah pada perdagangan pagi–siang hari ini terus melanjutkan tren pelemahan, hingga menyeret IHSG ke zona merah.
Pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang persisten dalam beberapa hari perdagangan di pasar global, berdasarkan data Bloomberg. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama masih bertahan di level tinggi menyentuh 101,47.
Penguatan dolar AS dipicu oleh nada hawkish Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), yang sepertinya akan menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali pada tahun ini.
Mengacu data Bloomberg, rupiah melemah 0,61% di pasar spot menyentuh Rp17.954/US$. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah padahal ditutup di posisi Rp17.845/US$.
Kinerja rupiah yang melaju di tren negatif, terjadi ketika dolar AS menguat di level 101,47, usai terapresiasi 0,1% point–to–point.
Jika nilai rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, support menarik dicermati pada level Rp18.000/US$ dan selanjutnya Rp18.100/US$ secara potensial menahan rupiah.
Dari pasar Asia, semua mata uang Benua Kuning kompak melemah menyusul sentimen yang diisyaratkan oleh The Fed menyusul ketidakpastian yang masih berlanjut mengenai pembicaraan damai AS-Iran.
Di pasar regional Asia tengah hari ini ini, semua mata uang loyo menghadapi dolar AS, baht Thailand melemah 0,75%, rupiah Indonesia terdepresiasi 0,61%, disusul peso Filipina 0,33%, dolar Taiwan 0,25%, won Korea 0,23%, rupee India 0,15%, yuan China 0,09%, dolar Singapura 0,08%, ringgit Malaysia 0,07%, yen Jepang 0,01%, hingga dolar Hong Kong yang juga melemah 0,01%.
Dari pasar Indonesia, kegelisahan investor menyoal keputusan penyedia Indeks global MSCI juga membebani langkah rupiah.
Dalam pengumuman terbarunya, MSCI Inc. menunda hingga memperpanjang tinjauan terhadap pasar saham Indonesia, dengan alasan membutuhkan lebih banyak waktu untuk melihat apakah reformasi transparansi yang baru dilakukan otoritas berlangsung efektif.
Penyusun indeks global tersebut mengakui dampak positif dari langkah-langkah Indonesia mengenai reformasi transparansi, termasuk peningkatan pengungkapan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, HSC, dan peta jalan untuk menaikkan persyaratan free float minimum menjadi 15%.
Kendati demikian, catatan MSCI, yang terpenting bagi investor global adalah implementasi yang konsisten dan efek berkelanjutan dari langkah-langkah tersebut di pasar, kata MSCI dalam rilis hari Selasa.
Biarpun ada penundaan evaluasi, MSCI masih mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Markets, dan setidaknya dengan menyandang status tersebut pasar saham domestik terhindar dari aksi jual yang lebih masif.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut, MSCI memberikan peringatan yang cukup tegas terkait masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi kepemilikan saham, validitas free float, konsentrasi kepemilikan, serta dugaan coordinated trading.
“Risiko downgrade belum sepenuhnya hilang,” papar BRI Danareksa dalam catatan terbarunya, mengutip Rabu (24/6/2026).
MSCI menyatakan bahwa konsultasi penurunan status ke Frontier Market dapat dimulai apabila tidak terdapat perbaikan yang signifikan hingga November 2026.
Kondisi ini berpotensi membuat investor asing lebih berhati-hati, lanjut BRI Danareksa, sehingga arus dana masuk ke pasar saham Indonesia cenderung terbatas dalam jangka pendek dan menjadi overhang sentimen sepanjang tahun.
(fad)




























