Logo Bloomberg Technoz

Terpelesetnya IHSG ditengarai akibat sikap wait and see terhadap penetapan market classification (klasifikasi pasar) Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI. Adapun pengumuman MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 atau dini hari nanti.

Efeknya diproyeksikan akan sangat signifikan, mengingat pelaku pasar sedang mencermati kejelasan status freeze (pembekuan) pada bursa saham Indonesia, mengutip Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Berdasarkan rilis Global Market Accessibility Review kualitatif dari MSCI pada 19 Juni lalu, terdapat penurunan peringkat pada kriteria Information Flow (dari '+' menjadi '-') karena isu opasitas struktur kepemilikan saham (free float) dan indikasi coordinated trading behavior. 

“Bila MSCI mempertahankan status Emerging Market kepada pasar saham Indonesia, tetapi tetap melanjutkan status freeze tanpa adanya sinyal downgrade ke Frontier Market, maka respons pasar akan cenderung netral–terkonsolidasi atau priced-in, karena kekhawatiran worst-case scenario tidak terjadi” papar Mirae Asset dalam catatan terbarunya.

Namun apabila terdapat kejelasan positif dari MSCI mengenai peluang pencabutan freeze di masa mendatang seiring komitmen transparansi data emiten, maka hal ini dapat memicu pembalikan capital inflow.

Gerak IHSG makin dibebani oleh depresiasi nilai tukar rupiah. Siang ini, rupiah tengah melemah 0,22% ke Rp17.869/US$.

DBS Group Research Equity menuturkan bahwa nilai tukar rupiah masih menjadi faktor utama yang menentukan sentimen pasar saat ini. Berbagai kekhawatiran terus menyelimuti, dari menyempitnya surplus neraca perdagangan, tingginya harga minyak dunia, hingga penerapan skema ekspor baru, telah memberikan tekanan terhadap rupiah sekaligus pasar saham Indonesia.

DBS menilai, Bank Indonesia belum menunjukkan langkah-langkah pertahanan yang cukup kredibel, sementara cadangan devisa Indonesia telah turun ke level terendah dalam dua tahun, hingga menyentuh US$144 miliar.

Kendati kondisi makroekonomi saat ini masih diliputi ketidakpastian, DBS optimistis sebagian besar skenario terburuk telah tercermin dalam harga pasar.

“Saat ini, pasar tampaknya telah memperhitungkan risiko Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market, kehilangan status investment grade, serta pelemahan nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp18.000 per dolar AS pada 2026,” terang analisis DBS Group.

(fad/aji)

No more pages