Purbaya menjelaskan, secara keilmuan dan data, posisi fiskal Indonesia tidak dapat dikritik. Defisit sepanjang 2025 berhasil ditekan hingga 2,81%, lebih baik dari proyeksi awal 2,9%.
Sementara untuk 2026, meskipun beban subsidi BBM dan listrik meningkat, pemerintah mendesain defisit tetap di bawah 3%, mendekati 2,9%.
"Karena di atas kertas, secara keilmuan selesai. Kita enggak bisa dikritik mana-mana. Tapi di luar, di praktiknya seperti itu. Jadi ya kita lihat aja market seperti apa," imbuhnya.
Purbaya juga menyebut Presiden Prabowo Subianto memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan fiskal, terutama saat terjadi bencana atau kondisi darurat. Namun, dia menegaskan setiap kebijakan tetap dijaga agar tidak membahayakan posisi defisit dan rasio utang.
"Ruang kita ada sebetulnya. Tapi itu semua tergantung Bapak Presiden. Bapak Presiden cukup fleksibel," tuturnya.
(mfd/ell)





























