Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (Aptiknas) Fanky Christian mengatakan, tekanan suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membuat pelanggan menahan atau menunda pembelian perangkat maupun solusi teknologi.
“Secara langsung belum berdampak, tapi mengakibatkan pelanggan TIK kemungkinan menunda pembelian, siklus penjualan menjadi lebih panjang, pembiayaan TIK jadi lebih mahal. Semua ini bisa menjadi beban ganda untuk industri TIK Indonesia,” kata Fanky, pada Bloomberg Technoz, Sabtu (20/6/2026).
Menurut dia, kenaikan suku bunga biasanya akan meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan.
Di saat yang sama, pelanggan korporasi maupun pemerintah cenderung lebih berhati-hati dalam mengalokasikan anggaran investasi ketika biaya pinjaman meningkat dan ketidakpastian ekonomi masih tinggi.
Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang proses pengambilan keputusan dalam proyek-proyek teknologi.
Perusahaan yang sebelumnya berencana melakukan investasi perangkat keras, pusat data, jaringan, maupun transformasi digital dapat memilih menunda realisasi hingga kondisi pasar lebih stabil.
Meski demikian, Fanky melihat terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan industri TIK di tengah tren kenaikan suku bunga.
Ketika investasi modal atau capital expenditure (capex) menjadi lebih mahal, pelanggan berpotensi beralih ke model layanan berbasis sewa atau operational expenditure (opex).
“Ada kemungkinan sisi positifnya juga, karena pelanggan mungkin akan beralih ke model sewa atau opex dibandingkan capex atau investasi,” ujarnya.
Perubahan pola belanja tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi penyedia layanan teknologi berbasis langganan, cloud computing, managed service, software as a service (SaaS), hingga skema pembiayaan perangkat yang tidak memerlukan investasi besar di awal.
Dikonfirmasi terpisah, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pun mengakui harus mengubah strategi ekspansi bisnis, lantaran kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate yang juga beriringan masih belum pulihnya kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ketua Umum APJII, Muhammad Arif Angga bercerita bahwa kondisi tersebut membuat biaya investasi semakin mahal sehingga perusahaan harus lebih berhati-hati dalam menyusun rencana ekspansi.
Ia menyebut, kenaikan suku bunga dan rupiah yang masih lemah memberikan tekanan ganda bagi industri yang selama ini dikenal padat modal, seperti penyedia layanan internet (ISP), operator telekomunikasi, penyedia infrastruktur internet, pusat data, hingga perusahaan teknologi.
“Ketika suku bunga naik dan rupiah melemah secara bersamaan, maka biaya investasi menjadi lebih mahal dan proses perencanaan bisnis harus lebih hati-hati,” kata Arif Angga, pada Bloomberg Technoz.
Meski demikian, kondisi yang terjadi tidak serta-merta membuat pelaku industri menghentikan ekspansi.
Beberapa perusahaan memilih mulai mengubah pendekatan bisnis dengan lebih selektif dalam mengalokasikan investasi. Pasalnya, kebutuhan konektivitas dan layanan digital di Indonesia masih terus meningkat.
“Kami cenderung melakukan penyesuaian strategi. Misalnya dengan lebih selektif dalam belanja modal, memprioritaskan wilayah dengan permintaan yang jelas, melakukan efisiensi operasional, mencari skema pembiayaan yang lebih sehat, serta memperkuat kerja sama antar pelaku industri,” ujarnya.
(mef/naw)




























