Dokumen dakwaan pidana dan surat pernyataan yang dirilis Departemen Kehakiman pada hari Selasa mengungkap rincian dari rencana tersebut. Komplotan ini berencana menerbangkan sejumlah pesawat nirawak (drone) pembawa bom untuk diledakkan di atas kerumunan penonton UFC, dengan tujuan memaksa massa yang panik berlarian ke arah perimeter yang sudah diintai oleh para penembak jitu.
Berdasarkan catatan pengadilan, dalang utama bernama Tycen Proper (19) asal Ohio, didakwa atas konspirasi tindak kejahatan melawan pemerintah, percobaan pembunuhan terhadap pegawai pemerintah, serta pelanggaran kepemilikan senjata api. Sementara empat anggota komplotan lainnya, yakni Abraham Hermosillo Alvarez (Nebraska), Daniel Kenely Eskridge (Missouri), Bryan Omar Roa (California), dan Michael Alan Thomas (California), didakwa atas konspirasi melakukan pembunuhan berencana.
Kuasa hukum Alvarez menolak memberikan komentar terkait kasus ini. Sementara pengacara Proper dan Eskridge tidak segera merespons permintaan tanggapan. Di sisi lain, berkas perkara untuk Roa dan Thomas saat ini masih disegel rapat dan perwakilan hukum mereka belum diketahui publik.
Berdasarkan surat pernytaan dari Biro Investigasi Federal (FBI) yang melacak riwayat obrolan digital Proper, beberapa target politisi yang dibidik secara spesifik meliputi Senator Jim Justice, Marsha Blackburn, dan Shelley Moore Capito, serta Anggota DPR Carol Miller dan Riley Moore. Pemerintah menyatakan bahwa Proper menargetkan mereka karena para anggota legislatif tersebut menerima aliran dana donasi dari kelompok-kelompok pro-Israel.
Para legislator yang disebut sebagai target merespons kabar tersebut dengan campuran rasa lega dan kekhawatiran.
Justice, senator dari Virginia Barat, mengatakan pada Selasa bahwa timnya telah menerima pengarahan dari FBI dan menegaskan peristiwa itu tidak akan memengaruhi cara dirinya menjalankan tugas.
"Kami selalu waspada, kami selalu khawatir, tetapi pada saat yang sama saya tidak akan menjalani hidup dengan rasa takut," katanya dalam wawancara singkat di Gedung Capitol. "Saya akan terus melakukan pekerjaan saya."
Blackburn, senator dari Tennessee, menulis di platform X bahwa "sangat mengerikan" mengetahui dirinya disebut sebagai salah satu target bersama anggota parlemen lainnya.
"Saya tidak akan membiarkan orang gila seperti ini menghalangi saya untuk merayakan atau melayani negara yang hebat ini, dan saya berterima kasih kepada aparat penegak hukum yang telah menjaga keselamatan kami," ujarnya.
Capito, senator dari Virginia Barat, mengatakan kepada wartawan di Capitol bahwa iklim politik saat ini sangat penuh kemarahan. Ia juga menyampaikan rasa lega karena aparat penegak hukum "menguasai situasi, memiliki intelijen, sumber daya manusia, dan kemampuan untuk menggagalkan" rencana seperti yang terkait dengan acara UFC tersebut.
Ia juga mengaku terganggu oleh penyebutan dukungan yang diterimanya dari American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). "Agresi terhadap saya secara pribadi sungguh mencengangkan," katanya.
Moore dan Miller, yang sama-sama berasal dari Virginia Barat, menyampaikan apresiasi kepada aparat penegak hukum lokal maupun federal yang bergerak cepat menggagalkan rencana serangan tersebut.
"Kita harus memiliki toleransi nol terhadap kaum radikal yang menyebarkan antisemitisme dan kekerasan," kata Miller. "Siapa pun yang berusaha menyakiti orang lain akan ditangkap dan dihukum."
Dalam pernyataannya di X, Moore mengatakan dirinya akan mendoakan para pelaku dengan harapan mereka "mengalami pertobatan hati."
Menurut surat pernyataan FBI, ibu Proper menghubungi aparat penegak hukum setempat pada malam 10 Juni karena khawatir terhadap putranya "akibat perilaku terbarunya, termasuk pembelian senjata api dan komunikasi dengan sejumlah individu secara daring."
"Anggota kelompok tersebut meyakini bahwa Amerika Serikat perlu dihancurkan agar dapat dibangun kembali," bunyi surat pernyataan itu. "Sebagian dari mereka juga menyatakan keinginan agar orang-orang yang terlibat dengan Jeffrey Epstein tidak memerintah negara ini."
Surat pernyataan itu menyebut Proper dan para rekan konspiratornya berharap dapat "memicu" revolusi di Amerika Serikat.
Aparat penegak hukum federal memperoleh percakapan di aplikasi Signal yang menunjukkan hampir 20 pengguna mendiskusikan berbagai persiapan operasional untuk menargetkan acara tersebut. Namun, catatan percakapan itu tidak menunjukkan apakah para peserta benar-benar memperoleh drone atau bahan peledak.
Wakil Direktur Secret Service, Matthew Quinn, dalam konferensi pers yang tidak terkait langsung dengan kasus tersebut mengatakan bahwa lembaganya memimpin penyelidikan dan bahwa rencana serangan itu melibatkan drone, penembak jitu, serta "teknik lainnya" yang tidak ia rincikan demi menjaga integritas penyelidikan yang masih berlangsung.
Quinn mengatakan masih ada tersangka yang belum ditangkap dan para agen terus bekerja menangani kasus ini. "Hanya karena Freedom 250 telah selesai bukan berarti kami akan berhenti," katanya.
Menurut Quinn, acara tersebut tidak pernah berada dalam situasi berbahaya dan pembatalannya tidak pernah dipertimbangkan, meskipun ia mengakui bahwa langkah-langkah pengamanan di sekitar lokasi dibuat lebih ketat dari biasanya.
Direktur FBI, Kash Patel, memuji operasi tersebut melalui unggahan di X.
"Berkat tindakan cepat FBI ini, para mitra kami, dan Departemen Kehakiman dalam operasi lintas negara bagian, sejumlah individu kini telah ditahan dan rencana serangan berhasil digagalkan sepenuhnya," tulis Patel.
Kompleks Gedung Putih, Trump, serta berbagai acara besar yang terkait dengan presiden telah menjadi sasaran dalam beberapa tahun terakhir. Selain penembakan saat acara makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih pada April lalu, kekerasan politik juga mencakup insiden pada 2024 ketika Trump ditembak saat kampanye di Butler, Pennsylvania, serta upaya pembunuhan di klub golf miliknya di Florida.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pria bersenjata juga tewas setelah mencoba menerobos perimeter keamanan di resor Mar-a-Lago milik Trump, serta terjadi penembakan di dekat pos pemeriksaan keamanan Gedung Putih. Trump meremehkan beberapa upaya terbaru tersebut dengan mengatakan dirinya tetap percaya kepada Secret Service dan ingin terus menggelar acara publik. Namun, ia juga berpendapat bahwa berbagai ancaman tersebut menjadi alasan perlunya pembangunan ballroom baru di kompleks Gedung Putih yang dilengkapi fasilitas keamanan dan medis tambahan.
"Kami dibangun untuk mendeteksi, merespons, dan membawa ke pengadilan siapa pun yang mengancam nyawa warga Amerika — terutama dalam acara besar seperti pertarungan bersejarah UFC 250," tulis Patel.
Hukuman atas vonis konspirasi untuk melakukan pembunuhan dapat mencapai penjara seumur hidup dan denda maksimum sebesar 250.000 dolar AS. Sementara itu, konspirasi untuk melakukan tindak kekerasan di lingkungan Gedung Putih memiliki ancaman hukuman maksimum lima tahun penjara.
(bbn)





























