“Setelah berbagai upaya untuk menghubungi kapal Inggris di selat tersebut gagal, kapal Grigorovich melepaskan tembakan peringatan,” tulis Kementerian Pertahanan Inggris (MOD) dalam pernyataan resminya. “Tembakan ini tidak ditujukan ke kapal tersebut dan merupakan upaya untuk mencegah potensi tabrakan.”
“HMS Mersey telah memantau pergerakan kapal Rusia tersebut, dan bantuan telah diberikan kepada awak kapal pesiar,” tambah MOD.
Kementerian Pertahanan Rusia membenarkan terjadinya insiden tersebut. Berdasarkan pernyataan resmi yang dirilis Selasa (16/6) malam, kapal pesiar itu mendekati kapal fregat Rusia dan tidak merespons berulang kali panggilan radio, suar, maupun sinyal suara hingga akhirnya tembakan peringatan dilepaskan.
“Setelah jarak menyusut hingga 150 meter, komandan fregat memutuskan untuk melepaskan tembakan pencegahan ke arah kapal dengan senjata ringan. Setelah itu, kapal pesiar berbendera Inggris tersebut segera mengubah haluan dan menjauh dari kapal perang Rusia,” tulis Kementerian Pertahanan Rusia melalui saluran resmi Telegram mereka.
“Awak kapal fregat Admiral Grigorovich bertindak dengan kepatuhan ketat terhadap peraturan navigasi internasional dan telah mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mencegah insiden lebih lanjut,” tambah pernyataan tersebut.
Para pejabat Inggris mengatakan bahwa kapal pesiar tersebut kini melanjutkan perjalanannya dan telah didatangi oleh kapal cepat militer Inggris untuk mengumpulkan rincian kronologi serta memeriksa keselamatan para penumpang. Di saat bersamaan, sebuah kapal patroli angkatan laut Inggris terus memantau kapal Rusia yang memang telah berada di kawasan selat tersebut selama beberapa pekan.
Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan antara Rusia dan NATO. Selama beberapa bulan terakhir, Rusia dilaporkan terus menguji ruang udara NATO, termasuk dengan mengerahkan pesawat nirawak (drone) dan pesawat tempur. Peristiwa di laut ini juga terjadi sesaat setelah operasi pertama yang dipimpin Inggris untuk menargetkan armada bayangan Rusia pada hari Minggu.
Dalam operasi hari Minggu tersebut, Komando Pasukan Marinir Kerajaan (Royal Marine Commandos) bersama petugas dari Badan Kejahatan Nasional (NCA) mengadang kapal bernama Smyrtos di perairan teritorial Inggris. Kapal tersebut kemudian ditarik ke tempat labuh jangkar di lepas pantai selatan Inggris agar pihak berwenang dapat melakukan penyelidikan terpisah. Kapten kapal tersebut kini didakwa atas dugaan pelanggaran sanksi internasional.
Inggris menegaskan bahwa tindakan tegas itu dilakukan berdasarkan hukum domestik dan internasional, setelah Perdana Menteri Keir Starmer menyetujui pengadangan kapal-kapal armada bayangan pada Maret lalu. Pemerintah menyatakan kapal tersebut menjadi target sebagai bagian dari upaya menegakkan sanksi yang dirancang untuk memangkas pendapatan yang digunakan mendanai perang Presiden Vladimir Putin di Ukraina.
Sejauh ini, Inggris telah menjatuhkan sanksi terhadap hampir 600 kapal yang terkait dengan armada bayangan Rusia—yang diperkirakan berjumlah lebih dari 700 kapal dan mengangkut sekitar tiga perempat minyak Rusia yang terkena sanksi. London mengklaim bahwa kapal-kapal yang mereka sanksi sukses memotong nilai angkut minyak Rusia hingga US$1,6 miliar pada kuartal pertama tahun 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
(bbn)
































