Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, tingginya harga minyak yang kembali ditransmisikan ke harga bahan bakar minyak non-subsidi Pertamax dengan kenaikan menjadi Rp16.250 per liter sepertinya sedikit meredakan kekhawatiran pelaku pasar terkait beban defisit fiskal.  

Kepala Strategi Makro Asia di Sumitomo Mitsui Banking Corp, Jeff Ng, mengatakan langkah-langkah yang diambil pemerintah merupakan awal yang baik. Meski begitu, dia menilai memulihkan kepercayaan pasar membutuhkan waktu. 

"Kami mulai melihat tanda-tanda awal stabilisasi, tetapi kondisinya masih rapuh," kata Jeff Ng," seperti dikutip Bloomberg News

Sementara dari kawasan, kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik kembali menekan mata uang Asia. Won Korea Selatan melemah paling tajam 0,4%, disusul dolar Taiwan 0,2%, dan rupiah 0,09%, lalu baht Thailand 0,05%, yuan China dan ringgit Malaysia masing-masing 0,03% dan 0,01%. 

Sebaliknya, peso Filipina menguat 0,12%, yuan offshore 0,05%, lalu yen Jepang 0,03%, disusul dolar Singapura dan Hong Kong maisng-masing 0,02% dan 0,01%. 

Di sisi lain, pasar global juga masih dibayangi kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan. Meski inflasi AS sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi, ekonomi Negeri Adidaya dianggap masih cukup kuat untuk membuat bank sentral untuk lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan. 

Alhasil, aset dolar AS masih menarik bagi investor global dan berpotensi membatasi aliran modal yang masuk ke negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia. 

Pagi ini, indeks dolar AS sempat bertahan di 100,049, sebelum menyisakan sebagian penguatannya menjadi 99,91. Sementara harga minyak mentah Brent berada di level US$95 per barel setelah menguat 2,04%. 

(dsp/aji)

No more pages