“Posisi KFLN Indonesia menurun di tengah aliran masuk modal asing pada investasi langsung dan investasi portofolio yang tetap terjaga,” kata Denny.
Posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) Indonesia pada akhir triwulan I 2026 tercatat sebesar US$784,3 miliar, lebih rendah dibandingkan US$832,6 miliar pada akhir triwulan IV 2025.
Penurunan tersebut terutama dipicu oleh melemahnya nilai instrumen keuangan domestik. Meski demikian, investasi langsung tetap mencatatkan surplus, yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia masih terjaga.
Di sisi lain, posisi investasi portofolio dan investasi lainnya mengalami penurunan seiring pembayaran surat utang sektor swasta serta pelunasan pinjaman luar negeri yang telah jatuh tempo. Posisi KFLN juga dipengaruhi oleh pelemahan harga saham dan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah.
“Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan I 2026 tetap terjaga, sehingga mendukung ketahanan eksternal. Hal ini tecermin dari rasio PII Indonesia terhadap PDB pada triwulan I 2026 sebesar 15,5%, lebih rendah dibandingkan 18,9% pada triwulan IV 2025.” kata Denny
Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang (92,5%) terutama dalam bentuk investasi langsung.
“Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek PII Indonesia dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal,” katanya
Selain itu, Denny menyebut Bank Indonesia akan terus memantau potensi risiko terkait kewajiban neto PII terhadap perekonomian.
(ell)






























