Data tersebut memberikan indikasi bahwa penerapan alat AI di berbagai tempat kerja di AS mulai berkontribusi terhadap perubahan besar dalam pola ketenagakerjaan.
Dalam laporan yang dipublikasikan Kamis, ekonom Goldman Sachs menemukan bahwa “profesi yang sangat terekspos pada substitusi AI mengalami penurunan lowongan kerja hingga di bawah level sebelum pandemi, sementara profesi yang terekspos pada augmentasi AI atau yang lebih sedikit terdampak AI mengalami penurunan lowongan yang lebih bertahap.”
Profesi otorisasi kredit mencatat penurunan terbesar sejak 2022, sementara sekretaris dan asisten medis menjadi pengecualian utama.
Jumlah pekerja customer service turun sebanyak 130.180 orang atau 4,8% dalam periode hingga Mei 2025, menurut laporan Occupational Employment and Wage Statistics dari BLS. Jumlah sekretaris dan asisten selain bidang medis, hukum, dan eksekutif turun 31.030 orang atau 1,8%, sementara tenaga penjualan grosir dan manufaktur nonproduk teknis dan ilmiah turun 28.670 orang atau 2,3%.
Sejak Mei 2022, titik data terakhir sebelum peluncuran OpenAI ChatGPT pada akhir tahun tersebut, profesi dengan penurunan terbesar di antara 18 kategori itu adalah petugas otorisasi kredit, pemeriksa, dan staf administrasi yang turun 26,2%; penyiar radio dan announcer yang melemah 20,8%; serta sales engineer yang turun 13,2%.
Meski angka-angka tersebut memberikan tanda awal dampak AI terhadap ketenagakerjaan, BLS mengingatkan dalam artikelnya pada November 2024 bahwa daftar 18 profesi itu “tidak boleh dianggap sebagai daftar yang lengkap atau definitif,” melainkan hanya “contoh profesi yang saat ini secara wajar diperkirakan terdampak AI.”
(bbn)

























