Langkah-langkah yang saling bertentangan ini menyoroti posisi sulit Beijing. Di satu sisi ingin menunjukkan sikap menantang terhadap pemerintahan Donald Trump, namun di sisi lain harus melindungi bank-bank milik negara terbesar di China dari sanksi sekunder AS. Ketegangan antara dua kekuatan besar dunia ini terus meningkat hanya beberapa minggu sebelum pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei mendatang.
Washington sendiri terus meningkatkan upaya untuk memutus pengiriman minyak Iran yang menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi Teheran. Akhir bulan lalu, Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS memasukkan Hengli ke dalam daftar hitam, menyasar pemain besar yang memiliki koneksi kuat dalam industri pengolahan minyak mentah China.
AS juga memperingatkan perbankan bahwa mereka berisiko terkena sanksi sekunder jika terbukti mendukung kilang swasta China yang membeli minyak Iran. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa pihaknya telah mengirim surat kepada dua bank China untuk memperingatkan risiko sanksi tersebut, meski ia tidak menyebutkan nama bank yang dimaksud.
Meskipun bank-bank China tidak pernah mengungkapkan secara terbuka eksposur mereka terhadap Hengli, data pinjaman yang dihimpun oleh Bloomberg menunjukkan bahwa empat bank terbesar di China—Industrial & Commercial Bank of China Ltd (ICBC), Agricultural Bank of China Ltd, China Construction Bank Corp, dan Bank of China Ltd—tercatat memberikan pinjaman kepada Hengli setidaknya hingga 2018. Baik pihak bank maupun Hengli tidak menanggapi permintaan konfirmasi.
Walaupun China sering mengecam sanksi sepihak, dalam beberapa kasus sebelumnya, Beijing secara diam-diam membiarkan perusahaan terbesarnya patuh guna menghindari dampak buruk bagi ekonomi domestik. Bank-bank negara terbesar di China memiliki sejarah kepatuhan terhadap sanksi AS terkait Iran, Korea Utara, bahkan terhadap pejabat tinggi di Hong Kong. Hal ini dilakukan demi menjaga akses mereka ke sistem kliring dolar AS.
Dalam kasus sebelumnya, Beijing berupaya melindungi pemberi pinjaman yang memiliki kepentingan sistemik dengan mengalihkan transaksi terkait Iran melalui anak usaha China National Petroleum Corp, yaitu Bank of Kunlun Co, yang saat ini juga telah dijatuhi sanksi.
(bbn)































