Logo Bloomberg Technoz

Nvdia mencetak net margin 65,5% dengan return on equity (RoE) dan return on asset (RoA) masing-masing 101,5% dan 75,4%.

Mengutip terminal Bloomberg, harga saham ARKO diperdagangkan di level Rp9.925 per saham pada penutupan Selasa (28/4/2026). Level harga itu naik hampir 1.000% jika dibandingkan dengan posisi tahun lalu.

Seiring dengan lompatan saham itu, kapitalisasi pasar ARKO naik ke level Rp29 triliun. Kendati demikian, RoA dan RoE ARKO, dua indikator yang dipakai untuk mengukur profitabilitas perusahaan, terbilang mungil.

RoA dan RoE ARKO masing-masing tercatat sebesar 4,21% dan 13,2% untuk tahun buku 2025.

Rasio saham ARKO. (Bloomberg)

ARKO mencetak laba bersih Rp63,9 miliar sepanjang tahun lalu, dengan operating profit margin (OPM) dan net profit margin masing-masing 5,1% dan 17,5%.

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada berpendapat reli saham ARKO belakangan disebabkan karena aksi beli yang besar dari sebagian investor.

“Kalau dilihat dari nilai P/E yang mencapai 400 kali terlihat tidak make sense tapi reaksi pasar cenderung bersifat sentimen ketimbang faktor fundamental,” kata Reza saat dihubungi dikutip Rabu (29/4/2026).

Di sisi lain, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyoroti kecilnya likuiditas perdagangan saham ARKO.

Menurut Wafi, porsi likuiditas yang kecil itu ikut mendorong reli saham ARKO sejak tahun lalu.

“Secara valuasi, clearly overvalued terlepas dari kapasitas earnings power-nya,” kata Wafi.

Mengutip data KSEI per 31 Maret 2026, sebagian besar saham ARKO dikuasai oleh afiliasi Grup Astra dan beberapa pemodal besar lainnya.

Afiliasi ARKO seperti PT Arkora Bakti Indonesia, Energia Prima Nusantara dan PT Bina Pertiwi Energi menguasai sekitar 70,38% saham ARKO.

Mayoritas saham dipegang PT Arkora Bakti Indonesia dan Energia Prima Nusantara masing-masing sekitar 38,89% dan 26,55%. Sementara itu, PT Bina Pertiwi Energi menguasasi 4,94%.

Di sisi lain, pemegang saham non afiliasi berisikan Happy Hapsoro, Grup Lippo, ACEI Singapore Holdings Private Ltd dan PT Prospera Kapital Investma.

Happy Hapsoro memegang sekitar 4,04% saham ARKO, sekitar 2,01% lewat kendaraan investasinya PT Sentosa Bersama Mitra.

Grup Lippo lewat perusahaan real estate dan investasinya PT Star Pacific Tbk (LPLI) menghimpit 3,53% saham ARKO. Penerima manfaat akhir LPLI saat ini konglomerat James Riady.

Adapun, ACEI Singapore Holdings Private Ltd dan PT Prospera Kapital Investama menghimpit 1,07% dan 1,9%.

Versus Peers 

Mengutip terminal Bloomberg, saham ARKO terbilang mahal jika dibandingkan dengan beberapa perusahaan EBT lainnya di kawasan. 

Enterprise value (EV)/EBITDA dan price to book value (PBV) ARKO masing-masing 3 kali dan 6 kali lebih mahal dibandingkan rata-rata perusahaan EBT global.

Menurut hitung-hitungan Bloomberg, rata-rata EV/EBITDA dan PBV perusahaan EBT berada di kisaran 15,9 kali dan 9,7 kali. Sementara, ARKO mencatat EV-EBITDA 48,1 kali dan PBV 56,4 kali.

Perbandingan valuasi saham ARKO relatif dengan perusahaan EBT global. (Bloomberg)

Dengan demikian, investor bertaruh lebih besar untuk ARKO ketimbang beberapa perusahaan EBT kelas global seperti Grenergy Renovables SA, Shenzhen Hopewind Eletric Co, Jiaze Renewables Co Ltd dan Cadeler A/S.

ARKO juga kelewat premium dari PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), kendaraan investasi BPI Danantara di bisnis panas bumi. PER dan PBV PGEO berada di kisaran 17,7 kali dan 1,2 kali dengan kapitalisasi pasar Rp42,9 triliun.

“Kami memandang tingginya PER sebagai bentuk kepercayaan dari investor terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang kami, khususnya di sektor EBT,” kata Head of Investor Relations ARKO, Nicko Yosafat saat dihubungi.

Nicko menambahkan perseroannya turut membuka opsi aksi korporasi yang dapat meningkatkan likuiditas saham. Kendati demikian, aksi korporasi itu akan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis ke depan.

“Kami senantiasa terbuka terhadap berbagai opsi corporate action, yang secara langsung atau tidak langsung bisa meningkatkan likuiditas saham,” kata Nicko.

Belakangan, ARKO berhasil mengoperasikan Proyek Kukusan 2 di Tanggamus, Lampung pada Februari 2026. Proyek yang mengandalkan aliran sungai tanpa bendungan besar itu memiliki kapasitas setrum 5,4 megawatt (MW).

Proyek Kukusan 2 menjadi pembangkit keempat yang dioperasikan perseroan sejak berdiri pada 2010. ARKO turut mengoperasikan Proyek Cikopo, Proyek Tomasa dan Proyek Yaentu dengan kapasitas setrum ketiganya mencapai 27,4 MW.

Manajemen membidik pipeline 300 megawatt (MW) setelah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2022. Saat itu, harga saham ARKO ditawar Rp300 per saham dengan dana yang dihimpun Rp182,67 miliar.

(naw)

No more pages